Archive forDecember, 2007

Psikosomatis

Pd_depressed2_070531_ms_2
Menurut Hippocrates, ketika penyakit datang, itu
merupakan tanda bahwa alam telah melenceng dari jalurnya dikarenakan adanya
ketidakseimbangan fisik atau mental. Fisik dan psikis memang saling berkaitan. Sakit
fisik yang bekepanjangan dapat menimbulkan gangguan psikis. Penyakit yang tak
kunjung sembuh dapat menimbulkan depresi bagi penderitanya. Sebaliknya gangguan
psikis seperti kecemasan, stress, dan tekanan hidup dapat menyebabkan imunitas
tubuh menurun serta menimbulkan sakit fisik. Inilah yang disebut psikosomatis.

Berkaca dari pengalaman pribadi, psikosomatis dapat
diredam dengan mengubah mindset bahwa diri kita tidak sedang sakit. Berawal
dari positive thinking menimbulkan positive feeling sehingga soma dapat
membaik. Jika kita berfikir kita sakit, maka semakin sakit pula fisik kita.
Mengubah mindset berfikir bukanlah sesuatu yang mudah bila tidak dilandasi
dengan tekad yang kuat. Untuk sakit fisik yang berkepanjangan, penderita dapat
menjadi hopeless dan benci dengan penyakitnya. Parahnya kebanyakan
dokter hanya memperhatikan sakit fisiknya saja tanpa memandang sisi psikis dari
pasiennya. Seharusnya dokter dapat memberikan dorongan moril untuk pasiennya
supaya timbul positive feeling bagi pasien. Feeling yang baik dapat
meningkatkan imunitas yang bermanfaat bagi kesembuhan penyakit yang diderita.

Adalah sebuah kemajuan di dunia kedokteran
ketika film Pat Adam yang dibintangi Robin William dapat memberi inspirasi bagi
banyak dokter. Bahwa humor dapat membantu kesembuhan penyakit. Film ini
menginspirasi seorang dokter di Aussie untuk selalu menghibur pasiennya dengan
humor. Humor dapat membuat orang tersenyum bahkan tertawa. Senyum dan tawa
memberikan energi positif bagi tiap orang. Sesuntuk apapun kita, cobalah untuk
sedikit menarik bibir kita ke samping niscaya energi positif akan timbul. Lagi
pula tersenyum hanya mengeluarkan sedikit energi dibandingkan bila kita sedang
marah atau bete. Jadi hemat energi kan?

Komunikasi yang baik antara pasien dengan dokter dapat
membantu meredam psikosomatis dan mempercepat kesembuhan pasien. Mungkin inilah
yang mendasari seorang profesor kedokteran dari UGM mengusulkan memasukkan
kurikulum komunikasi dokter dengan pasien dalam kurikulum pendidikan dokter di
Indonesia. Yach, semoga ke depan dapat bermunculan dokter-dokter yang mempunyai
kemampuan komprehensif dalam menangani penyakit, tidak hanya melihat penyakit
dari gejala klinis dan patfisnya saja, tetapi juga memberikan atensi pada sisi
psikis pasien sehingga dapat menyampaikan kemungkinan terburuk dengan cara yang
benar-benar safe bagi psikis pasien, bukannya membuat pasien tambah stress.

(Jadi inget bu dokter yang
9 tahun lalu pernah bilang kalo aku ga dapat darah ga ada jaminan dengan
hidupku. Emangnya dokter yang nentuin umur seseorang! Sampai sekarang aku susah
percaya dengan dokter. Dokter bisa salah diagnosis. Dokter bisa salah dosis.
Dokter bisa jadi bagian sindikat bisnis obat. Tapi dokter juga bisa jadi dokter
yang hebat, bisa jadi penolong hidup banyak orang. Dokter juga manusia. Ketika
jadi pasien jadilah pasien yang proaktif. Tanyakan tentang penyakit dan obat
yang diberikan dengan sejelas-jelasnya. Hak pasien loh! Ajarannya pak Isnawan
nih.)

Note : Yang nulis tulisan
ini masih aja benci ketika saluran nafasnya tiba2 menyempit, benci ketika
refluks gastronya sampai ke rongga mulut, benci ketika perih menyergap bibir,
bahkan hampir phobi dengan MSG. Sekarang lagi berusaha berteman dengan soma.
Menganggapnya sebagai teman yang sering menemani aktivitas keseharian, yang
"marah" apabila lalai dijaga, yang berlaku "lembut" bila
dirawat dengan baik walau sering menyebalkan dengan kemisteriusannya dan
kejutan-kejutannya. Menjadikannya sebagai part of life dan tetap berusaha untuk
positive thinking, positive feeling, dan tentunya positive action seperti kata
Andrea Hirata.
Yach
biar ga psikosomatis. Life must be struggled guys.

Comments