Archive forFebruary, 2008

Hopeless???

Hopeless??? Ah
itu dulu. Sekarang aku ga boleh hopeless lagi. Yach, walaupun serangan
itu datang dan membuatku nyaris tak bertenaga, aku ga boleh hopeless
lagi. Mau seperti apa kita, semuanya dikendalikan oleh otak kita sendiri. Ia
temanku. Sebuah kenyataan yang ga bisa aku tolak. Teman yang membersamaiku
seumur hidupku. Ia memang selalu datang di saat yang ga tepat. Ya, itu karena
aku tak pernah menginginkannya. 

Tak bisa aku
pungkiri kalo aku pernah membencinya. Ia membuatku sulit bernafas, sulit
berfikir, dan sulit untuk melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Aku tak
berdaya. Aku menyerah dalam pelukan ketidakberdayaanku sendiri. Betapa
menyedihkannya. Aku sering stress dibuatnya. Tapi, stress hanya membuat ia
makin gencar menyerangku. Bukan itu cara untuk menghadapinya. Anggaplah ia
teman yang kadang butuh perhatian lebih. Begitulah pendapatku. 

Sekarang aku
sudah bisa menganggapnya sebagai teman. Teman yang menyapa bila aku lalai
menjaga diri. Ia juga akan menyapaku bila aku berada pada hawa yang ga baik.
Ketika hati dan fikiran ini tak bisa diajak untuk berlaku positif, ia akan
datang membelaiku dan mengingatkanku. Alangkah baiknya ia. 

Ketika ia
datang, istirahat dan tersenyumlah. Begitu caraku menghadapinya. Cara ini
ternyata efektif juga sehingga ia hanya sebentar saja menghampiriku. Senyum
ternyata benar-benar membawa energi positif. Hati menjadi senang sehingga
urat-urat stress pun dapat terlonggarkan. Aku pernah baca kalo senyum itu lebih
hemat energi dibanding marah. Kayaknya emang benar deh. Buktinya kalo aku marah
aku jadi lebih cepat laper hehehe……….. 

Sekarang aku
sangat yakin aku bisa menghadapinya. Bukan dihadapi dengan obat semprot yang bisa
buat addict ataupun suntik terapi yang sangat lama, tapi dihadapi dengan
senyum dan positive thinking. Dengan sisa-sisa tenaga dan kesulitan
berkonsentrasi yang teramat sangat, aku masih bisa mengetik tulisan ini. Bukti
kalo aku masih bisa melakukan apa yang aku ingin lakukan. Walaupun nafas
terengah dan otak susah diajak kompromi, keep smile!!! Dengan begitu ia
akan mudah menghilang. Yeah, aku bisa menghadapinya. Aku masih punya banyak
mimpi. So aku ga mau hopeless lagi. Never again!!!

Note : Ditulis di malam
saat serangan itu datang. Yach, resiko atopi. Btw, caraku ini ga boleh dilakukan bagi yang udah parah, bisa2 tar malah pergi ke alam lain.

 

Comments

Little Billy

Baby_1

Pagi
itu terasa sunyi. Tak banyak orang melakukan aktifitas di pagi itu.
Mungkin
karena sang mentari sedang malas membagikan kehangatan sinarnya pada dunia.
Tangis little Billy tiba-tiba memecah kesunyian pagi. Menangis!!! Ya hanya
menangis yang bisa dilakukan oleh little Billy ketika terusik ketenangannya.
Little Billy memang belum lama bisa melihat dunia. Ia belum bisa melakukan
apapun selain menangis, minum susu, dan tidur.

Tangis little Billy sangat keras hingga dapat memanggil
orang-orang tuk datang menghampirinya. Yach, little Billy ditemukan tanpa
sehelai pakaian pun melekat di tubuhnya yang lembut. Little Billy kedinginan.
Mungkin itu jawaban atas tangisnya. Orang-orang pun segera mencarikan pakaian
yang dapat menghangatkan tubuh little Billy. Ah tapi tetap saja little Billy
menangis. Aha mungkin little Billy lapar.
Little Billy harus minum susu. Tapi botol susu little Billy
kosong. Kaleng susunya pun tak ada.

Ah kasihan
sekali little Billy. Seandainya ia bisa berbicara, mungkin ia akan berteriak.
”Mama jangan pergi!!!!!!” Malangnya mamanya tak dapat mendengar jeritan
hatinya. Mama…, mengapa mama lebih memperturutkan emosi mama daripada
mempedulikanku? Ah, biarlah mama pergi. Little Billy masih punya papa. Papa….,
tolong aku, ratapnya dalam hati. Ah ternyata papa lebih tak bisa mendengar kata
hatiku, keluhnya kecewa. Papa…, mengapa papa turut pergi? Mengapa papa tak
membawaku turut serta untuk menyusul mama? Mengapa papa meninggalkanku dalam
keadaan seperti ini? Aku akan menunggu papa untuk menjemputku. Papa pasti
datang menjemputku. Little Billy meyakinkan hatinya di tengah kesedihan dan
kegelisahannya yang makin memuncak.   

Sehari
sudah papa little Billy meninggalkannya, tapi belum ada tanda-tanda sang papa
menjemputnya. Dimanakah engkau papa? Tahukah kau papa betapa baiknya
orang-orang di sekelilingku saat ini. Betapa mereka selalu menjagaku. Mereka
tak pernah meninggalkanku. Mereka tak membiarkanku menangis. Mama, papa, betapa
aku sangat merindukanmu.

Hari
demi hari berlalu, tapi tak jua tampak tanda-tanda papa dan mama little Billy
datang menjemputnya. Little Billy begitu lelah menantikan harapan yang tak
pasti. Tapi keyakinannya begitu kuat hingga dapat mengalahkan simpul-simpul
kelelahannya. Hingga akhirnya hari sudah memasuki hitungan ketujuh. Papa…,
akhirnya kau datang juga. Tapi, dimana mama? Ah biarlah!

Ada papa bersamaku saat ini. Bawa aku
pulang papa! Bukannya aku tak suka berada di tempat ini. Bukannya mereka tak
baik padaku. Tapi bukan di sini tempatku. Tempatku adalah bersama mama dan papa. Jangan tinggalkan aku lagi, papa!!!

 

 

 

Comments

Be The Sunshine Forever

Alqurum_beach_2006_sunshine
"
Be
the sunshine forever"
, demikian pesan dari seorang sahabat kala SMA dalam my
farewell diary
. Yeah my farewell diary, aku ga menemukan kata yang
tepat selain kata-kata itu. Kenyatannya itu adalah sebuah diary,
tepatnya farewell diary dari sahabat-sahabatku kala SMA.
Di
dalamnya ada banyak memori dan pesan special for me. Salah satu pesannya
ya yang jadi topik tulisan ini. Sebuah pesan yang selama ini aku lupakan.

 Berawal dari ga sengaja mengingat-ingat my past memories, akhirnya aku
baca lagi deh farewell diarynya. Hiks, habis baca malah terharu banget,
jadi kangen dengan Salsabila crew 2000. Miss u sist.

Well, aku ngerti banget maksud pesan ini. Mereka
berharap ima selalu ceria, ima yang selalu tersenyum. Bahkan Dee bilang kalo
aku kelebihan senyum (i’m not crazy sist!!! masih waras ko, hehe…cuma
rada sowak). Eh tapi apa memang aku sebegitunya ya? Like the sunshine? Is
it right?
Masih kata Dee (dalam farewell diary), "ima tuh ceria
sehingga Dee senang melihatnya, apalagi kalo Dee lagi bete, senyum ima bagai
senyuman bidadari deh" (bidadari kepleset dari kahyangan kalee Dee!!! hehe…truz nyungsep ke bumi).

Untuk jadi ceria, pastinya kita harus merasa senang. So, bisa
selalu tersenyum deh.
Sedikit cerita masa lalu, aku selalu senang
saat berangkat sekolah (saat SMA neeh). Tiap sampai ke sekolah bawaannya ceria
terus, so banyak senyum deh. Walau harus masuk jam 06.30 untuk pendalaman materi dan kenyataannya aku
sering telat, belum lagi tugas-tugas yang bejibun, dan ulangan yang sering
banget, pokoke sekolah tuh menyenangkan banget. Makanya kalo pulang selalu
ngaret, seringnya sih nongkrong dulu di sekolah. Aku senang ketemu guru-guru
yang baik (kecuali yang selalu buat spot jantung dengan kecurigaannya yang
kelewat batas. Biar galaknya minta ampun ternyata ibunya tuh orang Aisyiyah,
salut deh).

Aku senang ketemu teman-teman dengan berbagai macam
tipikalnya – yang suka bagi-bagi makanan (kapan lagi bisa dapat Toblerone
gratis! dapat roti bakar tiap hari lagi!); yang mau minjemin komik dan majalah
anime (walau harus dirayu dengan manfaatin assignment bahasa inggris);
yang suka ngejailin tapi smart banget; yang senang discuss
tentang politik, agama, MotoGP, F1, sepak bola, anime, bahkan pelajaran (loh?);
yang suka curhat ke aku; yang gampang diporotin; yang salaf tapi malah
kelihatan cool dan keren banget waktu pakai ‘tiger’ (remember, the
women aren’t the devils guys!!!
); yang setia menemani menikmati ga indahnya
"taman gantung"; yang senang nyanyi jejepangan "ima
watada…"
dan "ima nanika…" (dalam bahasa jepang,
ima artinya ’sekarang’);  yang sudah jadi kakak yang baik (walau sering nyebelin
juga sih!); yang bisa dipukulin sesuka hati dan ga bales; etc. Too long
kalo harus dijelasin semua.

Aku senang dengan kelas yang nyaman yang bisa dihias
sesuka hati, termasuk bisa milih warna cat sendiri, mau ijo, biru, peach, ungu,
orange, etc pokoke up to the students! Aku senang dengan taman sekolah
dan gazebonya beserta pohon jambu, kelengkeng, mangga (obat laper). Hehe kalo
ga ingat jaga image, sudah aku panjat itu pohon. Singkatnya aku merasa lebih alive
ketika berada di sekolah. Aku paling susah kalo ada libur panjang. Seringnya
sih jadi sakit yang lumayan berat dan biasanya sembuh kalo sekolah mulai masuk
lagi.

Pada dasarnya, aku tuh orang yang senang kalo melihat
teman senang. Aku berfikiran kalo orang ga akan suka melihat muka yang ditekuk.
That’s the reason why I always smile. Kalo kitanya senang, paling ga
orang lain akan ketularan energi positif kita. Sayangnya itu duluuuuu. Ga
ngerti deh sejak kuliah aku ga bisa seperti itu lagi. I often lose my smile.
Bahkan sering banget kelihatan gloomy. Kalo dibilang banyak problem,
dari dulu juga sudah punya banyak problem. Ga tau nih, kenapa ya aku jadi susah
menikmati hidup yang indah ini. Sampai Umi aja bilang kalo aku tuh jarang
terlihat seger, kuyu terus. Yeah gloomy days, make it uneasy.
Mungkin manajemen problemnya neeh yang ga beres. Belum lagi ada alergi yang
manifestasinya ke lips so buat aku tambah males senyum. Pfuuh, kalo lagi
kambuh, salah narik lips dikit aja bisa-bisa muncul siluet merah, BLOOD!
Ah forget it! It’s my
friend, not my enemy.
Lagian
ada hikmahnya ko. Ga boleh sembarangan nebar senyum kalee ya. Hehe daripada
buat banyak orang tepar. My best friends, forgive me. I promise. I’ll
try to be the sunshine. Be the sunshine forever.

 

Comments