Create The Happines
Suatu sore, saat aku mencoba menghilangkan penat yang mendera raga, aku raih sebuah koran lokal hari itu dari tempat penyimpanannya. Membaca koran memang bukan solusi terbaik untuk menghilangkan penat, lebih-lebih dengan kondisi otakku yang sedang butuh suplai oksigen ekstra. Tapi, tak kuurungkan niatku untuk membaca. Membaca koran sudah menjadi bagian dari aktivitas keseharianku. Ditemani rasa lelah dan pedih yang tiba-tiba menyergap mata, aku menekuri deretan-deretan kalimat yang tersusun rapi dalam kolom-kolom berita dan artikel. Aku pelototi lembaran-lembaran buramnya, tak ku biarkan satupun topik-topik menarik luput dari pandanganku.
Saat kepenatan semakin dalam menusuk sendi-sendi tubuhku, aku menyerah untuk meneruskan membaca. Lembaran-lembaran buram itu aku susun kembali sesuai urutan halamannya. Tiba-tiba pandanganku tersangkut pada sebuah rubrik di halaman tengah. Aku urungkan niatku untuk melipatnya. Aku kembali membaca. Sebuah rubrik konsultasi kesehatan jiwa yang diasuh oleh seorang dokter spesialis kejiwaan yang cukup ternama. Saat melihat judul rubrik tersebut, aku merasa sangat perlu untuk mengesampingkan penatku demi menghampiri rubrik ini. Aku kemudian menelusuri rangkaian kata-kata yang dirangkaikan oleh seorang dokter menjadi untaian petuah bagi jiwa-jiwa yang sakit.
Baris-baris kalimat dalam rubrik tersebut memuat suatu cerita tentang seseorang yang berhasil menghilangkan kemurungan dalam hidupnya. Sebuah cara yang sederhana sekali, yaitu mengikuti anjuran dokter untuk membantu dan membahagiakan orang lain. "Jangan pernah melakukan apapun yang tidak anda sukai", begitu yang ditekankan oleh sang dokter. Karena itu adalah akar dari seluruh permasalahan, tambahnya. Hehe kalau yang ini pastinya banyak orang yang mengalami harus melakukan hal yang sama sekali tidak ia inginkan, termasuk aku. So, aku merasa sangat perlu untuk kembali meneruskan menyelami petuah-petuah sang dokter. Cara yang tepat bagi orang-orang yang sedang murung dan gelap adalah menjadikannya tertarik dan cinta kepada orang dan kehidupan, yaitu dengan cara membantu dan membahagiakan orang lain.
Sang dokter kemudian mengutip pendapat dari seorang psikiater besar, Dr Alfred Adler. Kemurungan adalah seperti sebuah kemarahan dan penyesalan yang terus menerus terhadap orang lain, walaupun dengan maksud untuk mendapat perhatian, simpati, dan dukungan. Individu hanya nampak tertarik dan berfikir tentang dirinya sendiri. Hmm, aku tak sepenuhnya sependapat dengan pendapat tersebut. Sebagai orang yang sering mengalami kemurungan (terutama akhir-akhir ini), menurutku kemurungan adalah suatu bentuk manifestasi dari adanya suatu masalah. Sehingga ketika dikatakan bahwa kemurungan dari seseorang itu bertujuan untuk mendapat perhatian, simpati, dan dukungan, menurutku itu tak sama sekali benar. Memang orang-orang yang sedang dilanda kemurungan membutuhkan perhatian, simpati, dan dukungan, tapi memangnya ada orang yang sengaja memurungkan dirinya? Hehe pendapat seorang psikiater besar disanggah oleh orang yang sama sekali ga punya landasan teori kejiwaan sepertiku. Kurang kerjaan aja.
Mengenai individu yang disebutkan hanya nampak tertarik dan berfikir tentang dirinya sendiri, menurutku itu benar. Orang bisa dilanda kemurungan karena ia selalu memikirkan masalah yang menimpa dirinya. Ia selalu memikirkan dirinya yang sedang diterpa masalah. Semua manusia sesungguhnya mempunyai mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi setiap permasalahan yang menimpanya. Namun ada kalanya tidak berhasil sehingga dibutuhkan nasihat, saran, dan dukungan dari orang lain, urai sang dokter. Menurutku orang yang murung adalah orang mekanisme pertahanan dirinya tidak berhasil sehingga butuh bantuan orang lain untuk mengatasinya, bukan dilakukan dengan kesengajaan. Dalam hal ini, kendala yang sering terjadi adalah nasihat dan saran sering ditolak oleh orang yang dilanda kemurungan. Dengan ikhlas, sabar, dan tawakal sering tidak berhasil untuk mengatasi hal ini. Mereka lebih suka didengarkan dan diberi contoh kasus yang inspiratif untuk menghilangkan kemurungannya. Kalau pernyataan ini, menurutku benar banget.
Maka menurut sang dokter, cara paling tepat untuk mengatasi kemurungan adalah membuat orang lain menjadi bahagia. Dengan banyak membantu orang lain dan membuatnya menjadi bahagia, maka orang yang tadinya murung dapat menjadi bahagia. Kebahagiaan akan menular. Benar kata teman bahwa kebahagiaan adalah energi positif. Dan ketika energi positif itu menular kepada orang yang murung, maka kemurungan itu akan menghilang digantikan oleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang ditularkan dari orang yang telah dibuatnya menjadi bahagia. Makanya aku ga suka bila ada teman yang sedang mengalami gloomy days. Hehe padahal aku sering banget gitu. "Lupakan diri anda dengan menjadi tertarik pada orang lain, lakukan setiap hari sebuah perbuatan baik yang akan memberikan senyum kebahagiaan di wajah orang lain", begitulah petuah sang dokter. Ehm, sekarang aku ngerti kenapa ada orang yang tiba-tiba ingin menjadi orang baik dengan selalu membantu orang lain. Di akhir kalimatnya, dokter tersebut mengutip sabda Nabi bahwa sebuah perbuatan baik adalah seseorang yang bisa membawakan senyum kebahagiaan kepada wajah orang lain. "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain".