Archive forApril, 2008

Ekstase Peringatan Kartini

Tanggal
21 April – saat memperingati Hari Kartini – sudah berlalu. Peringatan Hari
Kartini tahun ini masih saja sama seperti tahun-tahun lalu, diidentikkan dengan
busana daerah. Anak-anak TK riang gembira memamerkan pakaian adat yang mewakili
seluruh penjuru nusantara. Tidak ketinggalan juga ibu-ibu berlomba dalam fashion
show
dengan tema busana daerah. Begitu pula instansi-instansi pemerintah
mewajibkan pegawainya menggunakan busana daerah. Jadi inget waktu SMA saat
semua murid dan guru harus datang ke sekolah menggunakan busana daerah. Aku ga
suka banget saat itu. Mana harus upacara menggunakan busana daerah kemudian
dilanjutkan dengan lomba-lomba yang menurutku sama sekali ga ada sangkut
pautnya dengan spirit Kartini. Lomba putra-putri Pakci, ini sih semacam lomba
modelling, ga nyambung banget deh. Lomba mewiru jarik (kain batik yang dipakai
sebagai pakaian bawahan), bagus sih untuk melestarikan adat. Lomba menggambar
foto Kartini, tetap ga nunjukin spirit Kartini. Lomba memasak untuk laki-laki,
inikah makna emansipasi?

 

Emansipasi
bermakna kebebasan, kemerdekaan. Kartini mempunyai keinginan untuk maju, keinginan
untuk terus belajar, keinginan untuk bebas dari tradisi yang membelenggu.
Kartini mengajarkan saudara-saudaranya untuk terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko
bila berbicara diantara mereka agar Kartini dan saudara-saudaranya terbiasa
berbicara dengan masyarakat awam. Sebagai anak bupati, Kartini diwajibkan
menggunakan bahasa Jawa kromo bila berbicara dengan saudara-saudaranya.
Peraturan itu ia langgar. Kartini adalah sosok perempuan Jawa yang cerdas
dengan semangat belajar yang tinggi. Ia juga mengajarkan berbagai pengetahuan
kepada perempuan-perempuan di sekitarnya, walaupun ia berada dalam pingitan.
Ia pun tak pernah berhenti berusaha meneruskan pendidikannya hingga ke negeri
Belanda. Walaupun akhirnya hanya mendapatkan ijin untuk melanjutkan pendidikan
di Batavia. Sayangnya Kartini keburu dinikahkan dengan seorang bupati. Kalo
menurut seorang teman, ada permainan sejarah ketika memilih Kartini sebagai icon
perempuan Indonesia (Jawa) yang mempunyai spirit emansipasi. Bagaimanapun seorang
perempuan itu berusaha, akhirnya ia akan menyerah pada keadaan. Mengapa tidak
memilih perempuan-perempuan lain yang memang terbukti kiprah nyatanya pada
bangsa Indonesia?, begitulah komentarnya.

 

Well, terserah pemikiran orang terhadap Kartini seperti apa. Menurutku yang
lebih penting adalah bagaimana memaknai esensi peringatan Hari Kartini. Sekian
tahun sudah peringatan Hari Kartini, sudahkah membawa perubahan yang berarti
bagi perempuan Indonesia? Ketika banyak perempuan yang menuntut untuk diberi kesempatan
dan ketika kesempatan itu sudah dibuka, sangat sedikit yang mempergunakannya.
Memang sudah banyak perempuan-perempuan cerdas yang menduduki pos-pos penting
dalam pengambilan kebijakan, tapi apakah mereka sudah berpihak pada kepentingan
perempuan? Sementara perempuan-perempuan lndonesia lainnya bersusah payah
mengantri untuk mendapatkan minyak goreng, dihimpit oleh harga bahan pangan
yang kian melambung tinggi, angka buta huruf perempuan yang masih tinggi, dan
berbagai permasalahan sosial lainnya. Era emansipasi saat ini, banyak perempuan
yang cerdas hanya untuk dirinya sendiri, tak peduli akan kepentingan kaumnya,
bebas melakukan apapun yang ia inginkan walau merampas hak orang lain
sekalipun. Buktinya tindak kekerasan terhadap PRT (Pekerja Rumah Tangga) banyak
dilakukan oleh majikan perempuan.
Kapan ya perempuan-perempuan Indonesia ini
bisa cerdas (cerdas otak dan hatinya). Ketika perempuan ga cerdas, mana bisa ia
melahirkan generasi-generasi penerus yang mampu membawa perubahan bagi bangsa
ini.

Comments

Melacak Sejarah Keluarga

Ga sia-sia 4
hari capek puter-puter Jawa Timur (Sidoarjo-Surabaya-Malang-Blitar), paling ga
aku jadi lebih ngerti sejarah keberadaanku. Loh? Maksudnya sejarah keluarga
gitchu. Hasil dari investigasi (ceile…) terhadap kakek nenekku yang tersebar
dimana-dimana. Gini deh kalo punya kakek-nenek banyak banget. Kok bisa? Ya
pokoke bisa! Ga usah dijelasin deh soale rumit banget ngejelasinnya.

 

Dari dulu
aku ga pernah merasa aku adalah orang Jogja asli, walaupun lahir di Jogja (akte
sih bilang gitu padahal RS AU berada di Sleman), tumbuh besar di

kota

Jogja, sekolah di
Jogja, kuliah di Sleman, hidup di
Jogja. Aku merasa sebagai keturunan orang Jawa Timur yang numpang lahir dan
numpang hidup di Jogja. Bapak jelas-jelas orang Blitar dan ibu lebih suka
disebut sebagai orang

Malang

walau nyata-nyata dibesarkan dan hidup di Jogja. Aku
menemui kenyataan lain saat suatu ketika aku pergi ke Malang dan dengar cerita
dari kakek-nenek di sana. Udah gitu ditambah dengan cerita dari bapak dan mbah
putri yang tinggal di Bantul tapi baru aku dapatkan ceritanya saat di Sidoarjo
kemarin.
Sekarang
aku baru merasa aku benar-benar orang Jogja.

 

Hmmm…tampaknya
harus mulai mendongeng neeh. Seperti yang udah diceritain di atas kalo bapak
adalah orang Blitar (lahir dan sekolah di Blitar, walau sempat juga sekolah di

Kediri

, dan kuliah serta hidup di Jogja). Dulu aku hanya
mengetahui kalo nenek berasal dari Patalan, Jetis, Bantul (sempat kost di
Kauman dan akhirnya hidup selamanya di Blitar) dan kakek berasal dari
Gogourung, Kademangan, Blitar. Tapi setelah aku telusuri lebih jauh ternyata
kakek dan nenek masih saudara. Yang lebih ngagetin lagi ternyata cikal bakal
Dusun Gogourung adalah orang-orang Jogja yang eksodus ke

sana

.
Aku udah tanya kemana-mana tapi ga ada yang tahu alasan
pastinya kenapa pada pindah ke sana. Aku cuma dapat info kalo asal muasal Dusun
Gogourung adalah orang-orang Jejeran, Pleret, Bantul. Katanya sih dulu pindahnya
dipimpin oleh seorang kyai ke suatu tempat angker di daerah Blitar Selatan yang
untuk menuju ke sana harus menyeberangi Sungai Brantas. Tempat itu sekarang
menjadi Dusun Gogourung. Diberi nama demikian karena tiap ditanami gogo (padi)
selalu ga bisa tumbuh. Dusun kakekku dikenal sebagai kampung santri yang aman
dan bebas dari tindak kejahatan. Orang-orang kampung tersebut sebenarnya masih
bersaudara. Dulu ada peraturan yang ga membolehkan orang kampung tersebut nikah
dengan orang dari kampung lain. Sekarang sih ga begitu. Pantesan aja nenekku
dulu ditipu ma kakek buyut diminta datang ke Blitar jenguk saudara eh tahunya
malah dinikahkan ma kakek. Hehe kalo ga gitu ga bakalan ada aku tuh. Yach, akhirnya
dapat disimpulkan kalo asal muasalnya keluarga bapak adalah dari Bantul. Kalo
mo ditarik lebih atas lagi sampai asal kakek buyut yang dari nenek udah ga bisa
kelacak deh. Rumah peninggalan yang merupakan sisa-sisa kejayaannya sebagai
pedagang udah ambruk ga bersisa diguncang gempa 5,9 SR. Yang paling rumit
ngelacaknya tuh saudara-saudara tirinya kakek yang katanya tinggal di Sulang,
Jetis, Bantul. Kalo ga gara-gara gempa Jogja 2006 pastinya aku ga bakalan
ketemu ma pakdhe yang sekarang tinggal di Ngawi, malahan bisa ga ngerti punya
pakdhe di sana.

 

Lain keluarga lain pula ceritanya. Begitu
juga dengan keluarganya ibu. Ibu tuh lahir di Malang dan menghabiskan masa
kecilnya di Malang juga, tepatnya di kecamatan Turen yang katanya sih berasal
dari nama orang Turian – yang menguasai daerah perdikan di wilayah tersebut.
Ibu juga sempat hidup di Madiun dan akhirnya hidup di Jogja. Kakek yang mengabdi
di Kopasgat (sekarang Paskhas) ga mau keluarganya selalu berpindah-pindah
mengikuti dinas beliau sehingga membangun rumah di Jogja yang ga terlalu jauh
dari Pangkalan AU, yaitu di Miliran, Umbulharjo. Kakek berasal dari Jetis,
Saptosari, Gunungkidul. Daerah yang udah hampir mencapai puncak Gunungkidul. Dengar-dengar
sih dulu leluhur kakek sering menuju kota Jogja dengan berjalan kaki dan sampai
dalam waktu yang ga terlalu lama. Orang-orang jaman dulu emang hebat deh.
Sedangkan nenek berasal dari kampung Jagalan, daerah depan Pasar Turen, Malang
Selatan. Kalo keluarganya nenek masih bisa ditelusur sampe kakek canggah
(kakeknya nenek). Kakek dan nenek buyut berasal dari Turen, tapi orang tuanya
ada yang berasal dari daerah di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa
Aran-aran. Katanya sih masih ada saudara yang tinggal di sana. Trus kakek
canggah ternyata berasal dari Bagelen, Purworejo. Hehe kalo gini darahku ada
Jawa Tengahnya juga. Yach, akhirnya kesimpulan terakhirnya adalah aku
benar-benar asli orang Jawa yang lahir dan hidup di Jogja (ga tahu sampe kapan
mo di Jogja neeh)

Comments (2)