Archive forMay, 2008

It’s About My Interest

Tiap orang pasti punya interest yang berbeda-beda. Begitu juga aku. Menurutku, interest itu bisa berubah-ubah. Ini sesuai dengan pengalaman pribadi loh. Yach, selama beberapa waktu ini aku merasa banyak banget yang berubah dalam hidupku, termasuk masalah interest ini. Ternyata semuanya berhubungan dengan cara kita mengekspresikan perasaan. Ketika aku kehilangan tempat yang biasa aku gunakan utuk mengekspresikan perasaan, aku pun kacau banget. Aku butuh tempat berkspresi! Aku kemudian berusaha mencari penggantinya. Mencari wahana yang bisa aku gunakan untuk mengekspresikan seluruh perasaan dan jiwaku. "Apa gunanya hidup tanpa bisa berekspresi?", pikirku saat itu.

Aku kemudian menekuni hobi lamaku, membaca. Yach, dengan membaca aku merasa menemukan dunia lain yang diciptakan oleh si penulis buku. Tapi itu semua tak lebih seperti air yang ditumpahkan ke gurun pasir, menghilang dalam sekejap. Jiwaku masih saja meletup-letup. Rasaku ingin terbuncah keluar. Ragaku tak sanggup lagi membendungnya. "Aku butuh tempat berekspresi!", teriakku dalam hati. "Huh, untuk teriak aja ga bisa", batinku sebal. Saat kesal membelenggu diri, tiba-tiba mataku terpaut pada sebuah kertas tipis di atas meja komputerku. Sebuah pembatas buku berwarna hitam, produk eksklusif dari Rifka Annisa. Di atasnya tercetak huruf berwarna-warni nan berderet rapi, gradasi warna hijau dan merah. "STOP SILENT, TELL WHAT TOU FEEL". Begitulah bunyi deretan huruf itu. "Benar juga!", pikirku. Aku ga boleh diam terus, aku harus mengatakan apa yang aku rasakan! Otakku berputar kencang. Aku bukan orang yang mampu menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku pikir dengan kalimat verbal yang tertata dengan baik dan rapi. Kadangkala kemampuan verbalku diuji. Yeah, suatu kesempatan bagus untuk melatihnya. Tapi tetap saja itu semua tak dapat menampung seluruh ekspresi jiwaku. "Aku butuh sesuatu yang lain", aku meyakinkan diri. Toh ekspresi tidak harus diverbalkan.

Karena sering membaca majalah mode, aku pun mulai interest dengan dunia mode, terutama desain. Aku mulai banyak mendapat inspirasi tentang desain-desain pakaian yang ready-to-wear dan pernak-perniknya. Buku kuno terbitan Amrik warisan nenekku turut menyumbang inspirasi ide yang cukup besar. Tapi, aku punya kendala. Aku bego banget masalah gambar. Aku kesulitan menuangkan ide-ideku ke dalam gambar. Walapun aku pernah mendapat juara III lomba gambar tingkat SD se-kecamatan, gambar-gambar desainku ga bagus. Entahlah kenapa dulu aku bisa mendapat juara. Beberapa saat yang lalu (sebelum gedung SDku direnovasi), gambar yang aku buat 11 tahun yang lalu itu masih terpajang di dindingnya. Sebuah gambar yang melukiskan prajurit kraton yang menandu gunungan, sementara banyak orang sudah menantikan untuk memperebutkannya. Gambar yang aku buat dengan lembur selama semalam itu dibingkai dengan kayu yang divernis mengkilat, digantung di dinding SDku selama bertahun-tahun. Benar-benar ga nyangka sebegitunya guru-guruku menghargai karyaku. Ironis banget dengan aku yang saat ini merasa ga bisa gambar!

Walau punya kendala untuk menuangkan ide ke dalam gambar, aku tetap interest dengan dunia desain. Tapi kali ini beralih ke dunia bead-art. Aku beli buku-buku yang berkaitan dengan bead-art. Aku juga mulai hunting desain pernak-pernik dari bead yang paling baru. Aku juga betah berjam-jam ngendon di toko yang menjual perangkat bead-art sekadar melihat desain bead keluaran terbaru, bead yang berwarna-warni, dan swarovski yang berkilauan. Sayangnya, hobi ini butuh ekstra money. Kebanyakan bead harus dibeli dengan batas jumlah gram tertentu. Kalau just hobi buat tapi males ngejual ya rugi deh. Apalagi kalau buat yang ga bisa dijual, tambah-tambah rugi bo’. Pada saat yang bersamaan aku mulai tertarik dengan japanese painting. Gara-gara keseringan baca komik kalee ya. Kalau interest yang satu ini just untuk dinikmati aja deh.

Aku merasa belum bisa mengekspresikan diriku. Karena itu, aku belajar menulis. Dengan dorongan beberapa orang, dipaksa keadaan, plus obsesi pribadi, aku mulai menulis. Aku belajar menuliskan semua hal yang memenuhi otakku, mengurainya perlahan, mencerabutnya sedikit demi sedikit hingga menjadi susunan kata-kata yang berjajar rapi dan seringkali aku ga pede menuliskannya. Jadilah blogku yang selama ini ga keurus dipenuhi oleh permainan kata-kataku. Anehnya aku jadi hobi mempermainkan kata. Hal yang selama ini aku tinggalkan dan dulu juga jarang aku lakukan, just keisengan kecil kala bete dengerin kuliah. Hasilnya pun ga ada yang aku simpan. Aku menganggapnya sekadar corat coret ga berarti. Aku seringkali membuangnya. Aku menumpahkan seluruh kekesalan, kesedihan, dan kemarahan dengan menjebak kata-kata dalam sebuah permainan. Dengan membuangnya, aku merasa kekesalan, kesedihan, dan kemarahanku ikut terbuang bersamanya. Saat ini aku tertarik lagi mempermainkan kata-kata. Mungkin memang itulah ekspresi jiwaku. Permainan kata-kataku ternyata membuat beberapa orang yang merasa cukup mengenalku shock. "Ga nyangka kamu bisa menuliskannya", begitulah rata-rata komentar mereka. Well, saat ini aku suka menulis. Apalagi sejak mendapat amanah mengurus berita web Nasyiah. Mau ga mau harus belajar menulis berita. Ketika sempat merasa ga mampu, aku berusaha meyakinkan diri. "Masa aku yang sedari kecil selalu berebut koran dengan bapak di pagi hari ga bisa nulis berita sih? Tiap hari aku kan baca berita!", yakinku. Jadilah saat ini aku sering menulis. Aku ingin suatu saat bisa menulis cerpen, novel, juga skenario. Sayang aja sudah ikutan pelatihan penulisan skenario. Hehe padahal ikutnya cuma sepintas lalu karena sembari ngurus posko banjir. Yach, untuk keinginanku yang ini, sepertinya aku harus meng-upgrade daya khayalku deh. Mungkin suatu saat nanti. Sekarang mending menulis apa yang memang harus aku tulis. Yach, paling ga untuk menyelesaikan kewajiban.

Comments (2)

Berisik!!!

Episode malam susah tidur mulai lagi deh. Resiko punya rumah yang mepet ma jalan besar! Ya gini neeh kalo moge-moge memenuhi kota Jogja yang tenang dan damai. Jogja Bike Rendezvous bikin Jogja jadi berisik. Ga siang, ga tengah malam, suara deruman moge selalu menghiasi jalan-jalan kota Jogja. Silakan aja berkeliaran di Malioboro ampe Malioboro kala tengah malam jadi seperti pasar. Tapi please…jangan konvoi pas tengah malam dong! Aku pengin tidur nyenyak neeh!!!

Comments

Sensitif

Mempunyai indera yang
sensitif adalah sebuah berkah. Ga percaya? Coba saja tanyakan ke Prof Mary
Astuti. Dalam suatu kuliahnya, beliau pernah bercerita tentang seorang ahli
sensoris teh yang bisa mendapatkan income yang sangat besar karena
kesensitifitasannya terhadap teh. Akan tetapi, untuk menjadi sensitif bukan
perkara yang mudah. Untuk dapat menjadi seorang ahli sensoris teh, diperlukan
waktu selama 2 tahun untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth. Ternyata untuk
melatih indra supaya jadi sensitif itu tidaklah mudah, perlu latihan
berulang-ulang dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Yach,
sebandinglah dengan income yang diperoleh. Seperti halnya ahli-ahli sensoris di
berbagai industri yang masih membutuhkan indera untuk menguji produknya.
Sensitif jenis ini bisa menurun tingkatnya ataupun hilang bila sakit atau tidak
digunakan dalam jangka waktu yang lama. Makanya harus sering-sering dilatih
(kalo penggemar Conan pasti tahu cerita tentang ahli sensoris wine yang
kehilangan kemampuannya karena kecelakaan motor).

Sebaliknya ada orang yang
dikaruniai indera yang sensitif tanpa perlu latihan. Objeknya pun
bermacam-macam. Bisa sensitif terhadap makanan, bahan kimia, udara, debu, bakteri,
dsb. Sensitif jenis ini dikenal sebagai alergi. Banyak orang mengira bahwa
alergi dapat timbul hanya karena ada penyebab alergi. Akan tetapi sebenarnya alergi
juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Faktor pencetus ini dapat menyulut
terjadinya serangan alergi. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik
seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara
dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan, tertawa, menangis,
berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau
ketakutan. Lagi-lagi faktor psikis berpengaruh terhadap kondisi fisik!

Sensitif jenis ini dapat
menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya karena alergi dapat menyerang semua
organ atau sistem tubuh tanpa terkecuali dari ujung rambut sampai ujung kaki,
termasuk menimbulkan gangguan fungsi otak pada susunan syaraf pusat. Karena
gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perilaku seperti gangguan
konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur. Alergi sangat misterius, bisa
timbul berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini
sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya sesak
selanjutnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Mengenai bagaimana keluhan
yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi, ahli alergi modern berpendapat
serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Tidak mengherankan
kalau penderita alergi sering stress menghadapi penyakitnya, seperti seorang
ibu yang ketemu denganku waktu aku iseng ikutan tes darah. Ibu itu bilang kalau
dia sudah capek dengan alerginya, bertahun-tahun tidak sembuh walau sudah
berulang kali pergi ke dokter. Ibuku saja sampai harus terapi obat selama 2
tahun untuk menekan manifestasi klinis dari alerginya. Walau demikian, sensitif
itu tetap berkah, sebuah karunia. Kata mbak Farkhul kalau kita ikhlas menerima
penyakit kita, semoga itu bisa menjadi amalan kita. Apapun yang dikaruniakan
kepada kita harus tetap disyukuri walau itu adalah karunia sakit. Lihat dari
segi positifnya, positive thinking bo’!!!

Note :
Bukan keinginanku  menjadi atopi. Tapi, ketika semuanya penyakit sudah
datang, aku ga boleh menyerah gitu aja! Aku harus melawan kalo ingin menang.
Aku harus bisa hadapi alergi MSG, tetracyclin, dan salisilat ini. Hidupku yang
aku ga ngerti masih berapa lama lagi ini ga boleh disia-siakan hanya dengan
larut pada penyakit-penyakit ini. Keep fight gals!

Comments

Speak English, Please!

Weekend yang lalu lagi-lagi harus
dihabiskan di tempat kekuasaan ‘jenderal’ Bagyo dan ‘jenderal’ Widodo – Gedung
Pusbang, Kaliurang. Kali ini acaranya adalah English Course Camp. Walaupun ga
banyak yang bisa ikut tapi ga mengurangi esensi acara. Selain ada beberapa
participant non English course student, fasilitator dosen-dosen dari English
Department UAD, hadir pula English course teacher, Mr Kees dan Mrs Wendy yang
native Aussie. Selama acara berlangsung, seluruh personel yang terlibat wajib
bin kudu ngomong pake bahasa Inggris. Acara tersebut memang dikemas sebagai
wahana belajar meningkatkan kemampuan ngomong Inggris teman-teman yang ambil
kursus Inggris di PPM. Sampai kultum pun tetap harus pake bahasa Inggris. Semua
peserta dilatih biar pede ngomong Inggris, ga peduli dengan grammar yang
acak2an, vocab yang minim, pokoke belajar speak English.

 

Acara
tersebut dibuka oleh headmaster Mr. Sayuti, dilanjutkan dengan taaruf dan
kontrak belajar yang dipandu oleh fasilitator (standar banget kan?). Setelah
itu dilanjutkan nonton film dan bakar jagung (yang ini asyik banget).
Film yang dipilih untuk dikritisi
malam itu adalah filmnya Will Smith, Pursuit of Happyness. Film yang
diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang perjuangan Chris Gardner
untuk memburu kebahagiaannya.
Satu kalimat yang aku ingat banget di
film itu adalah ketika Chris Gardner bicara dengan his son, Christoper.
"If you’re happy, I’m
happy." Yach, memang kebahagiaan itu bukan terletak pada diri kita
sendiri. Tapi bahagia adalah ketika melihat orang yang kita sayangi bahagia.
Hidup
tersusun dari banyak bagian yang serupa potongan-potongan puzzle. Terserah
bagaimana kita menyusunnya, bentuk apa yang kita susun, bagian mana yang kita
inginkan untuk menjadi pondasinya. Apapun bentuk bangunannya, itulah hidup
kita. Semua yang menentukan adalah diri kita. Begitulah pendapatku saat diskusi
dengan teman-teman satu kelompok. Meski Linda, istri Chris Gardner telah
meninggalkannya, Chris Gardner tak putus asa untuk tetap mendapatkan
kebahagiaan. Hidup yang amat keras tidak membuat Chris Gardner berhenti
berjuang. Film ini bagus untuk menumbuhkan semangat hidup agar jangan pernah
menyerah meski sebentar saja.

 

Setelah diskusi film berakhir, Mrs
Wendy memberikan challenge untuk semua participant. Challenge yang pertama
adalah mencari padanan kata ‘activist’ dalam bahasa Inggris coz kata ‘activist’
mempunyai konotasi yang buruk.
Kata aktivis sangat common bila
digunakan di Indonesia, tapi di luar negeri tidak demikian. Challenge yang
kedua adalah menerjemahkan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
dalam bahasa Inggris. Challenge ini kemudian dijadikan homework. Acara
selanjutnya dilanjutkan dengan bakar jagung di halaman rumput. Lumayanlah untuk
menghangatkan badan plus ngisi perut sebelum tidur. Hiks sayang, bumbu jagung
bakar buat alergiku kambuh. Sepertinya itu bumbu banyak banget pake MSG sampe
lidahku jadi belang-belang deh. Walau acaranya dikemas cukup santai, tapi tetap
speak English lah yaw!

 

Keesokan
harinya – Sunday morning – diisi dengan senam ringan plus jalan-jalan sampe
tugu Kaliurang. Menghirup udara kaki gunung Merapi yang segar nan dingin
sembari melemaskan kaki yang lama ga dipake untuk olahraga. Setelah sarapan,
acara pun dilanjutkan kembali di aula. Kali ini acaranya adalah belajar
dengerin lagu berbahasa Inggris dipandu oleh Mrs. Wendy. Wah, ternyata susah
juga ya, banyak yang salah niiy. Selepas dengerin lagu, dilanjutkan dengan
diskusi bersama Mr. Muttaqin dari MPK PPM yang tetap dikemas dengan game-game
menarik. Setelah puas mengeluarkan argumen, dilanjutkan dengan adictation
(bener ga sih nulisnya) yang dipandu oleh Mrs. Wendy. Session ini ternyata
bikin cape banget karena harus mengerahkan tenaga untuk lari bolak-balik. Saat
banyak yang udah kecapean, Mr Kees kembali menyegarkan suasana dengan mengajak
seluruh peserta bermain origami bikin Mr. Frog.
Ketika hari beranjak siang,
usai sudah rangkaian acara English Course Camp. Walaupun acara sudah selesai,
tapi tetap speak English. Semua berjanji akan berusaha ngomong pake bahasa
Inggris ketika ketemu untuk improve our English. Speak English, please!

Comments

Karena Bunda Perempuan

Ada suatu kisah tentang seorang bocah. Saat melihat bundanya menangis, ia bertanya kepada ayahnya mengapa bunda menangis. Ayahnya menjawab, "Karena bundamu perempuan." Bocah tersebut tidak puas dengan jawaban ayahnya sehingga ketidakpuasannya terbawa mimpi. Dalam mimpi, seolah-olah ia berdialog dengan Tuhan, maka Tuhan memberikan jawabannya :

"Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali pula ia kerap menerima cerca dari anaknya.

Kuberikan pada wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan pada wanita perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan pada wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan pada wanita kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan akhirnya kuberikan pada wanita air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepadanya agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita. Walau sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan.

Tulisan di atas diambil dari sebuah makalah diskusi dalam rangka memperingati Hari Ibu, "Mother, how are you today?"

Perempuan memang dikenal mudah mengeluarkan air mata. Perempuan mudah menangis. Tapi bukan berarti hanya perempuan yang bisa menangis. Laki-laki juga bisa menangis. Mengapa perempuan lebih mudah menangis? Tentu saja karena lebih peka perasaannya. Semua itu akibat pengaruh hormonal. Beberapa hormon yang berbeda antara laki-laki dan perempuan sangat berpengaruh terhadap tingkat emosi, ekspresi perasaan, perilaku, dan kecenderungan. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh Female Brain, buku karangan seorang dokter yang mengupas perbedaan laki-laki dan perempuan dari tinjauan medis. Hampir serupa dengan yang dituliskan Ratna Megawangi dalam Membiarkan Berbeda, seorang feminis yang disebut konservatif karena mengakui bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, bahwa otaknya berbeda. Kalau aku tidak salah ingat, dalam buku itu disebutkan bahwa volume otak kecil laki-laki dan perempuan itu berbeda. Well, laki-laki dan perempuan itu memang diciptakan berbeda, tentu saja agar saling melengkapi. Akan tetapi, juga perlu diingat bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dikaruniai kemampuan berfikir agar mereka mampu memikirkan ciptaanNya, agar mereka mampu menjadi khalifah fil ardh. Kepekaan perasaan bukan halangan bagi perempuan untuk menjadi cerdas, untuk dapat menjadi pemimpin, untuk berkiprah di ranah publik. Seperti halnya ‘Aisyah, ummul mukminin yang dikenal sangat cerdas dan kuat ingatannya. Atau seperti Hurrah Malikah bin Urwa bin Ahmad yang diberi amanah memimpin propinsi Yaman oleh Sultan Munthashir. Ataupun juga seperti Zubaidah, istri Khalifah Harun Al Rasyid yang memberi kontribusi pemikiran-pemikiran yang cemerlang untuk negara. Bagaimanapun seorang perempuan itu diciptakan, hal itu bukan halangan baginya untuk menjadi pelaku pencerahan bagi peradaban.

Comments