Sensitif

Mempunyai indera yang
sensitif adalah sebuah berkah. Ga percaya? Coba saja tanyakan ke Prof Mary
Astuti. Dalam suatu kuliahnya, beliau pernah bercerita tentang seorang ahli
sensoris teh yang bisa mendapatkan income yang sangat besar karena
kesensitifitasannya terhadap teh. Akan tetapi, untuk menjadi sensitif bukan
perkara yang mudah. Untuk dapat menjadi seorang ahli sensoris teh, diperlukan
waktu selama 2 tahun untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth. Ternyata untuk
melatih indra supaya jadi sensitif itu tidaklah mudah, perlu latihan
berulang-ulang dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Yach,
sebandinglah dengan income yang diperoleh. Seperti halnya ahli-ahli sensoris di
berbagai industri yang masih membutuhkan indera untuk menguji produknya.
Sensitif jenis ini bisa menurun tingkatnya ataupun hilang bila sakit atau tidak
digunakan dalam jangka waktu yang lama. Makanya harus sering-sering dilatih
(kalo penggemar Conan pasti tahu cerita tentang ahli sensoris wine yang
kehilangan kemampuannya karena kecelakaan motor).

Sebaliknya ada orang yang
dikaruniai indera yang sensitif tanpa perlu latihan. Objeknya pun
bermacam-macam. Bisa sensitif terhadap makanan, bahan kimia, udara, debu, bakteri,
dsb. Sensitif jenis ini dikenal sebagai alergi. Banyak orang mengira bahwa
alergi dapat timbul hanya karena ada penyebab alergi. Akan tetapi sebenarnya alergi
juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Faktor pencetus ini dapat menyulut
terjadinya serangan alergi. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik
seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara
dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan, tertawa, menangis,
berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau
ketakutan. Lagi-lagi faktor psikis berpengaruh terhadap kondisi fisik!

Sensitif jenis ini dapat
menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya karena alergi dapat menyerang semua
organ atau sistem tubuh tanpa terkecuali dari ujung rambut sampai ujung kaki,
termasuk menimbulkan gangguan fungsi otak pada susunan syaraf pusat. Karena
gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perilaku seperti gangguan
konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur. Alergi sangat misterius, bisa
timbul berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini
sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya sesak
selanjutnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Mengenai bagaimana keluhan
yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi, ahli alergi modern berpendapat
serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Tidak mengherankan
kalau penderita alergi sering stress menghadapi penyakitnya, seperti seorang
ibu yang ketemu denganku waktu aku iseng ikutan tes darah. Ibu itu bilang kalau
dia sudah capek dengan alerginya, bertahun-tahun tidak sembuh walau sudah
berulang kali pergi ke dokter. Ibuku saja sampai harus terapi obat selama 2
tahun untuk menekan manifestasi klinis dari alerginya. Walau demikian, sensitif
itu tetap berkah, sebuah karunia. Kata mbak Farkhul kalau kita ikhlas menerima
penyakit kita, semoga itu bisa menjadi amalan kita. Apapun yang dikaruniakan
kepada kita harus tetap disyukuri walau itu adalah karunia sakit. Lihat dari
segi positifnya, positive thinking bo’!!!

Note :
Bukan keinginanku  menjadi atopi. Tapi, ketika semuanya penyakit sudah
datang, aku ga boleh menyerah gitu aja! Aku harus melawan kalo ingin menang.
Aku harus bisa hadapi alergi MSG, tetracyclin, dan salisilat ini. Hidupku yang
aku ga ngerti masih berapa lama lagi ini ga boleh disia-siakan hanya dengan
larut pada penyakit-penyakit ini. Keep fight gals!

Leave a Comment