Ekstase Peringatan Kartini

Tanggal
21 April – saat memperingati Hari Kartini – sudah berlalu. Peringatan Hari
Kartini tahun ini masih saja sama seperti tahun-tahun lalu, diidentikkan dengan
busana daerah. Anak-anak TK riang gembira memamerkan pakaian adat yang mewakili
seluruh penjuru nusantara. Tidak ketinggalan juga ibu-ibu berlomba dalam fashion
show
dengan tema busana daerah. Begitu pula instansi-instansi pemerintah
mewajibkan pegawainya menggunakan busana daerah. Jadi inget waktu SMA saat
semua murid dan guru harus datang ke sekolah menggunakan busana daerah. Aku ga
suka banget saat itu. Mana harus upacara menggunakan busana daerah kemudian
dilanjutkan dengan lomba-lomba yang menurutku sama sekali ga ada sangkut
pautnya dengan spirit Kartini. Lomba putra-putri Pakci, ini sih semacam lomba
modelling, ga nyambung banget deh. Lomba mewiru jarik (kain batik yang dipakai
sebagai pakaian bawahan), bagus sih untuk melestarikan adat. Lomba menggambar
foto Kartini, tetap ga nunjukin spirit Kartini. Lomba memasak untuk laki-laki,
inikah makna emansipasi?

 

Emansipasi
bermakna kebebasan, kemerdekaan. Kartini mempunyai keinginan untuk maju, keinginan
untuk terus belajar, keinginan untuk bebas dari tradisi yang membelenggu.
Kartini mengajarkan saudara-saudaranya untuk terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko
bila berbicara diantara mereka agar Kartini dan saudara-saudaranya terbiasa
berbicara dengan masyarakat awam. Sebagai anak bupati, Kartini diwajibkan
menggunakan bahasa Jawa kromo bila berbicara dengan saudara-saudaranya.
Peraturan itu ia langgar. Kartini adalah sosok perempuan Jawa yang cerdas
dengan semangat belajar yang tinggi. Ia juga mengajarkan berbagai pengetahuan
kepada perempuan-perempuan di sekitarnya, walaupun ia berada dalam pingitan.
Ia pun tak pernah berhenti berusaha meneruskan pendidikannya hingga ke negeri
Belanda. Walaupun akhirnya hanya mendapatkan ijin untuk melanjutkan pendidikan
di Batavia. Sayangnya Kartini keburu dinikahkan dengan seorang bupati. Kalo
menurut seorang teman, ada permainan sejarah ketika memilih Kartini sebagai icon
perempuan Indonesia (Jawa) yang mempunyai spirit emansipasi. Bagaimanapun seorang
perempuan itu berusaha, akhirnya ia akan menyerah pada keadaan. Mengapa tidak
memilih perempuan-perempuan lain yang memang terbukti kiprah nyatanya pada
bangsa Indonesia?, begitulah komentarnya.

 

Well, terserah pemikiran orang terhadap Kartini seperti apa. Menurutku yang
lebih penting adalah bagaimana memaknai esensi peringatan Hari Kartini. Sekian
tahun sudah peringatan Hari Kartini, sudahkah membawa perubahan yang berarti
bagi perempuan Indonesia? Ketika banyak perempuan yang menuntut untuk diberi kesempatan
dan ketika kesempatan itu sudah dibuka, sangat sedikit yang mempergunakannya.
Memang sudah banyak perempuan-perempuan cerdas yang menduduki pos-pos penting
dalam pengambilan kebijakan, tapi apakah mereka sudah berpihak pada kepentingan
perempuan? Sementara perempuan-perempuan lndonesia lainnya bersusah payah
mengantri untuk mendapatkan minyak goreng, dihimpit oleh harga bahan pangan
yang kian melambung tinggi, angka buta huruf perempuan yang masih tinggi, dan
berbagai permasalahan sosial lainnya. Era emansipasi saat ini, banyak perempuan
yang cerdas hanya untuk dirinya sendiri, tak peduli akan kepentingan kaumnya,
bebas melakukan apapun yang ia inginkan walau merampas hak orang lain
sekalipun. Buktinya tindak kekerasan terhadap PRT (Pekerja Rumah Tangga) banyak
dilakukan oleh majikan perempuan.
Kapan ya perempuan-perempuan Indonesia ini
bisa cerdas (cerdas otak dan hatinya). Ketika perempuan ga cerdas, mana bisa ia
melahirkan generasi-generasi penerus yang mampu membawa perubahan bagi bangsa
ini.

Comments

Melacak Sejarah Keluarga

Ga sia-sia 4
hari capek puter-puter Jawa Timur (Sidoarjo-Surabaya-Malang-Blitar), paling ga
aku jadi lebih ngerti sejarah keberadaanku. Loh? Maksudnya sejarah keluarga
gitchu. Hasil dari investigasi (ceile…) terhadap kakek nenekku yang tersebar
dimana-dimana. Gini deh kalo punya kakek-nenek banyak banget. Kok bisa? Ya
pokoke bisa! Ga usah dijelasin deh soale rumit banget ngejelasinnya.

 

Dari dulu
aku ga pernah merasa aku adalah orang Jogja asli, walaupun lahir di Jogja (akte
sih bilang gitu padahal RS AU berada di Sleman), tumbuh besar di

kota

Jogja, sekolah di
Jogja, kuliah di Sleman, hidup di
Jogja. Aku merasa sebagai keturunan orang Jawa Timur yang numpang lahir dan
numpang hidup di Jogja. Bapak jelas-jelas orang Blitar dan ibu lebih suka
disebut sebagai orang

Malang

walau nyata-nyata dibesarkan dan hidup di Jogja. Aku
menemui kenyataan lain saat suatu ketika aku pergi ke Malang dan dengar cerita
dari kakek-nenek di sana. Udah gitu ditambah dengan cerita dari bapak dan mbah
putri yang tinggal di Bantul tapi baru aku dapatkan ceritanya saat di Sidoarjo
kemarin.
Sekarang
aku baru merasa aku benar-benar orang Jogja.

 

Hmmm…tampaknya
harus mulai mendongeng neeh. Seperti yang udah diceritain di atas kalo bapak
adalah orang Blitar (lahir dan sekolah di Blitar, walau sempat juga sekolah di

Kediri

, dan kuliah serta hidup di Jogja). Dulu aku hanya
mengetahui kalo nenek berasal dari Patalan, Jetis, Bantul (sempat kost di
Kauman dan akhirnya hidup selamanya di Blitar) dan kakek berasal dari
Gogourung, Kademangan, Blitar. Tapi setelah aku telusuri lebih jauh ternyata
kakek dan nenek masih saudara. Yang lebih ngagetin lagi ternyata cikal bakal
Dusun Gogourung adalah orang-orang Jogja yang eksodus ke

sana

.
Aku udah tanya kemana-mana tapi ga ada yang tahu alasan
pastinya kenapa pada pindah ke sana. Aku cuma dapat info kalo asal muasal Dusun
Gogourung adalah orang-orang Jejeran, Pleret, Bantul. Katanya sih dulu pindahnya
dipimpin oleh seorang kyai ke suatu tempat angker di daerah Blitar Selatan yang
untuk menuju ke sana harus menyeberangi Sungai Brantas. Tempat itu sekarang
menjadi Dusun Gogourung. Diberi nama demikian karena tiap ditanami gogo (padi)
selalu ga bisa tumbuh. Dusun kakekku dikenal sebagai kampung santri yang aman
dan bebas dari tindak kejahatan. Orang-orang kampung tersebut sebenarnya masih
bersaudara. Dulu ada peraturan yang ga membolehkan orang kampung tersebut nikah
dengan orang dari kampung lain. Sekarang sih ga begitu. Pantesan aja nenekku
dulu ditipu ma kakek buyut diminta datang ke Blitar jenguk saudara eh tahunya
malah dinikahkan ma kakek. Hehe kalo ga gitu ga bakalan ada aku tuh. Yach, akhirnya
dapat disimpulkan kalo asal muasalnya keluarga bapak adalah dari Bantul. Kalo
mo ditarik lebih atas lagi sampai asal kakek buyut yang dari nenek udah ga bisa
kelacak deh. Rumah peninggalan yang merupakan sisa-sisa kejayaannya sebagai
pedagang udah ambruk ga bersisa diguncang gempa 5,9 SR. Yang paling rumit
ngelacaknya tuh saudara-saudara tirinya kakek yang katanya tinggal di Sulang,
Jetis, Bantul. Kalo ga gara-gara gempa Jogja 2006 pastinya aku ga bakalan
ketemu ma pakdhe yang sekarang tinggal di Ngawi, malahan bisa ga ngerti punya
pakdhe di sana.

 

Lain keluarga lain pula ceritanya. Begitu
juga dengan keluarganya ibu. Ibu tuh lahir di Malang dan menghabiskan masa
kecilnya di Malang juga, tepatnya di kecamatan Turen yang katanya sih berasal
dari nama orang Turian – yang menguasai daerah perdikan di wilayah tersebut.
Ibu juga sempat hidup di Madiun dan akhirnya hidup di Jogja. Kakek yang mengabdi
di Kopasgat (sekarang Paskhas) ga mau keluarganya selalu berpindah-pindah
mengikuti dinas beliau sehingga membangun rumah di Jogja yang ga terlalu jauh
dari Pangkalan AU, yaitu di Miliran, Umbulharjo. Kakek berasal dari Jetis,
Saptosari, Gunungkidul. Daerah yang udah hampir mencapai puncak Gunungkidul. Dengar-dengar
sih dulu leluhur kakek sering menuju kota Jogja dengan berjalan kaki dan sampai
dalam waktu yang ga terlalu lama. Orang-orang jaman dulu emang hebat deh.
Sedangkan nenek berasal dari kampung Jagalan, daerah depan Pasar Turen, Malang
Selatan. Kalo keluarganya nenek masih bisa ditelusur sampe kakek canggah
(kakeknya nenek). Kakek dan nenek buyut berasal dari Turen, tapi orang tuanya
ada yang berasal dari daerah di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa
Aran-aran. Katanya sih masih ada saudara yang tinggal di sana. Trus kakek
canggah ternyata berasal dari Bagelen, Purworejo. Hehe kalo gini darahku ada
Jawa Tengahnya juga. Yach, akhirnya kesimpulan terakhirnya adalah aku
benar-benar asli orang Jawa yang lahir dan hidup di Jogja (ga tahu sampe kapan
mo di Jogja neeh)

Comments (2)

Create The Happines

Suatu sore, saat aku mencoba menghilangkan penat yang mendera raga, aku raih sebuah koran lokal hari itu dari tempat penyimpanannya. Membaca koran memang bukan solusi terbaik untuk menghilangkan penat, lebih-lebih dengan kondisi otakku yang sedang butuh suplai oksigen ekstra. Tapi, tak kuurungkan niatku untuk membaca. Membaca koran sudah menjadi bagian dari aktivitas keseharianku. Ditemani rasa lelah dan pedih yang tiba-tiba menyergap mata, aku menekuri deretan-deretan kalimat yang tersusun rapi dalam kolom-kolom berita dan artikel. Aku pelototi lembaran-lembaran buramnya, tak ku biarkan satupun topik-topik menarik luput dari pandanganku.

Saat kepenatan semakin dalam menusuk sendi-sendi tubuhku, aku menyerah untuk meneruskan membaca. Lembaran-lembaran buram itu aku susun kembali sesuai urutan halamannya. Tiba-tiba pandanganku tersangkut pada sebuah rubrik di halaman tengah. Aku urungkan niatku untuk melipatnya. Aku kembali membaca. Sebuah rubrik konsultasi kesehatan jiwa yang diasuh oleh seorang dokter spesialis kejiwaan yang cukup ternama. Saat melihat judul rubrik tersebut, aku merasa sangat perlu untuk mengesampingkan penatku demi menghampiri rubrik ini. Aku kemudian menelusuri rangkaian kata-kata yang dirangkaikan oleh seorang dokter menjadi untaian petuah bagi jiwa-jiwa yang sakit.

Baris-baris kalimat dalam rubrik tersebut memuat suatu cerita tentang seseorang yang berhasil menghilangkan kemurungan dalam hidupnya. Sebuah cara yang sederhana sekali, yaitu mengikuti anjuran dokter untuk membantu dan membahagiakan orang lain. "Jangan pernah melakukan apapun yang tidak anda sukai", begitu yang ditekankan oleh sang dokter. Karena itu adalah akar dari seluruh permasalahan, tambahnya. Hehe kalau yang ini pastinya banyak orang yang mengalami harus melakukan hal yang sama sekali tidak ia inginkan, termasuk aku. So, aku merasa sangat perlu untuk kembali meneruskan menyelami petuah-petuah sang dokter. Cara yang tepat bagi orang-orang yang sedang murung dan gelap adalah menjadikannya tertarik dan cinta kepada orang dan kehidupan, yaitu dengan cara membantu dan membahagiakan orang lain.

Sang dokter kemudian mengutip pendapat dari seorang psikiater besar, Dr Alfred Adler. Kemurungan adalah seperti sebuah kemarahan dan penyesalan yang terus menerus terhadap orang lain, walaupun dengan maksud untuk mendapat perhatian, simpati, dan dukungan. Individu hanya nampak tertarik dan berfikir tentang dirinya sendiri. Hmm, aku tak sepenuhnya sependapat dengan pendapat tersebut. Sebagai orang yang sering mengalami kemurungan (terutama akhir-akhir ini), menurutku kemurungan adalah suatu bentuk manifestasi dari adanya suatu masalah. Sehingga ketika dikatakan bahwa kemurungan dari seseorang itu bertujuan untuk mendapat perhatian, simpati, dan dukungan, menurutku itu tak sama sekali benar. Memang orang-orang yang sedang dilanda kemurungan membutuhkan perhatian, simpati, dan dukungan, tapi memangnya ada orang yang sengaja memurungkan dirinya? Hehe pendapat seorang psikiater besar disanggah oleh orang yang sama sekali ga punya landasan teori kejiwaan sepertiku. Kurang kerjaan aja.

Mengenai individu yang disebutkan hanya nampak tertarik dan berfikir tentang dirinya sendiri, menurutku itu benar. Orang bisa dilanda kemurungan karena ia selalu memikirkan masalah yang menimpa dirinya. Ia selalu memikirkan dirinya yang sedang diterpa masalah. Semua manusia sesungguhnya mempunyai mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi setiap permasalahan yang menimpanya. Namun ada kalanya tidak berhasil sehingga dibutuhkan nasihat, saran, dan dukungan dari orang lain, urai sang dokter. Menurutku orang yang murung adalah orang mekanisme pertahanan dirinya tidak berhasil sehingga butuh bantuan orang lain untuk mengatasinya, bukan dilakukan dengan kesengajaan. Dalam hal ini, kendala yang sering terjadi adalah nasihat dan saran sering ditolak oleh orang yang dilanda kemurungan. Dengan ikhlas, sabar, dan tawakal sering tidak berhasil untuk mengatasi hal ini. Mereka lebih suka didengarkan dan diberi contoh kasus yang inspiratif untuk menghilangkan kemurungannya. Kalau pernyataan ini, menurutku benar banget.

Maka menurut sang dokter, cara paling tepat untuk mengatasi kemurungan adalah membuat orang lain menjadi bahagia. Dengan banyak membantu orang lain dan membuatnya menjadi bahagia, maka orang yang tadinya murung dapat menjadi bahagia. Kebahagiaan akan menular. Benar kata teman bahwa kebahagiaan adalah energi positif. Dan ketika energi positif itu menular kepada orang yang murung, maka kemurungan itu akan menghilang digantikan oleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang ditularkan dari orang yang telah dibuatnya menjadi bahagia. Makanya aku ga suka bila ada teman yang sedang mengalami gloomy days. Hehe padahal aku sering banget gitu. "Lupakan diri anda dengan menjadi tertarik pada orang lain, lakukan setiap hari sebuah perbuatan baik yang akan memberikan senyum kebahagiaan di wajah orang lain", begitulah petuah sang dokter. Ehm, sekarang aku ngerti kenapa ada orang yang tiba-tiba ingin menjadi orang baik dengan selalu membantu orang lain. Di akhir kalimatnya, dokter tersebut mengutip sabda Nabi bahwa sebuah perbuatan baik adalah seseorang yang bisa membawakan senyum kebahagiaan kepada wajah orang lain. "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain".

Comments

Memperjuangkan Perempuan

Hari Perempuan
Internasional, tanggal 8 Maret sudah sepekan lebih berlalu. Tapi, aku masih aja
nyesel sudah melewatkan moment itu. Saat dengar teman-teman PSG Sleman dan NWI
Djazman mau mengadakan aksi dalam rangka memperingati Hari Perempuan, aku seakan
menemukan kembali semangatku. Teman-teman NWI juga sudah mengontakku untuk
mengikuti aksi. Sabtu pagi, tanggal 8 Maret aku sudah prepare untuk
berangkat ikut aksi yang rencananya dimulai dari depan UIN dan berakhir dengan happening
art
di Tugu. Hiks, sungguh sayang, aku ga diijinkan pergi oleh ibu. Yach,
ga jadi berangkat deh. Aku jadi punya hutang orasi. Maafin aku teman-teman.
Semoga aku bisa menebus hutangku di lain kesempatan.

 

Ibuku – seorang perempuan –
ga mengijinkanku pergi untuk aksi memperingati Hari Perempuan. Bagi ibuku,
mengikuti aksi tidaklah lebih penting dibanding aku menyelesaikan kewajibanku. Ah
mengapa aku merasa ibu tidak memahamiku? Mom (panggilan sayangku
terhadap ibu), ada yang harus kuperjuangkan di luar sana. Walaupun hanya
sekadar membagikan bunga dan selebaran, bernyanyi, serta berteriak, tapi itu
juga termasuk bentuk perjuangan. Perjuangan untuk menyadarkan masyarakat untuk
lebih peduli dengan nasib kaum kita, kaum perempuan. Sering kita dengar
perempuan yang ditindas, perempuan yang diperdagangkan seolah merupakan barang
tak berharga, perempuan yang dieksploitasi habis-habisan oleh kaum kapitalis,
perempuan yang tak mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki, kekerasan
terhadap perempuan, dan masih banyak lagi ketidakadilan yang terjadi terhadap
perempuan. Semuanya nyata adanya terjadi di sekitar kita. Apakah kita hanya
akan memejamkan mata dan menutup rapat-rapat telinga kita ketika mengetahui itu
semua?

 

Aku sering melihat
istri-istri yang harus bekerja keras dari pagi hingga malam menjelang,
membanting tulang untuk mendapatkan uang demi menghidupi keluarganya. Belum
lagi mereka masih harus mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anaknya. Lalu
dimanakah suami-suami mereka? Bukannya mereka tak ada. Mereka ada dan tinggal
seatap bersama istri dan anaknya. Para suami itu adalah sosok yang sehat, kuat,
mempunyai fisik yang sempurna, tapi mereka tak bekerja. Aktivitas kesehariannya
adalah berjudi dan minum minuman keras. Mereka mampu bekerja tapi mereka tak
ingin bekerja. Minuman keras rupanya sudah sangat meracuni otak mereka. Para
istrilah yang harus bekerja keras menghidupi keluarga. Sementara suami tinggal
menerima uang dari sang istri. Tak cukup hanya itu, bila uang yang diterima
dirasa tidak cukup untuk membeli minuman keras dan pasang taruhan judi,
suami-suami itu tak segan-segan melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya.
Aku sama sekali ga ngerti dengan jalan fikiran perempuan-perempuan yang harus
hidup seperti itu. Mengapa mereka rela menerima perlakuan seperti itu? Apa yang
mereka harapkan? Apakah cinta dari suami mereka? Cinta seperti apa yang tega
membiarkan istrinya menanggung beban hidup yang sedemikian beratnya? Cinta
seperti apa yang ga segan-segan melakukan kekerasan terhadap istrinya?
Mungkinkah perempuan-perempuan itu tidak ingin kehilangan figur ayah untuk
anak-anaknya? Tapi ayah seperti apa yang tega menelantarkan anak-anaknya? Ayah
seperti apa yang setiap hari hanya mengajarkan kemaksiatan, juga mengajarkan
untuk ringan tangan? Ga heran ketika anak-anaknya akhirnya mengikuti jejak sang
ayah terjun ke dunia hitam.
Apa perempuan-perempuan itu terlalu
takut dengan suami mereka? Mungkin mereka takut mendapat kekerasan fisik. Ah
aku benar-benar ga ngerti dengan jalan fikiran perempuan-perempuan itu. Itu
baru terjadi di satu kampung saja.

 

Beranjak ke kampung lain, keadaannya juga memprihatinkan. Di sana banyak
perempuan-perempuan muda belia yang terjebak dalam ‘rumah bordil’ kelas atas.
Aku sangat ga yakin pekerjaan itu yang mereka inginkan. Mereka pasti sudah
terjebak dalam sindikat perdagangan perempuan. Mereka yang usianya belum genap
20 tahun tapi sudah harus menerjuni ‘pekerjaan kotor’. Pernah aku melihat
mereka bercanda dan tertawa serta saling berebutan bergelayut manja dengan sang
majikan, tapi apakah itu mencerminkan hati mereka. Ketika melihatnya, aku
bagaikan melihat anak-anak kecil yang berebutan memperebutkan kasih sayang seorang
ayah. Jangan-jangan mereka merasa mendapatkan kasih sayang di sana. Kalaupun
alasan mereka adalah uang, aku yakin ga akan memerlukan waktu lama untuk bisa
mendapatkan uang banyak di sana. Konsumen mereka adalah high class.
Mereka tinggal datang ke tempat yang konsumennya inginkan, melakukan
pekerjaannya, dan pulang ke ‘rumah’ dalam keadaan kusut masai. Masyarakat pun
sudah tak peduli dengan rumah terkutuk itu, apalagi aparat keamanan. Setiap
bulannya mereka mendapat ‘upeti’ yang diantarkan langsung oleh pesuruh di rumah
itu. Pesuruh yang berpakaian rapi HANYA ketika mengantarkan upeti. Pesuruh yang
bangga bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi HANYA dengan
bekerja menjadi seorang pesuruh. Pesuruh yang bangga setiap minggunya bisa
menyisihkan pendapatannya sebesar sepuluh ribu rupiah untuk disumbangkan ke
gereja. Ah, aku benar-benar ga ngerti dengan jalan fikiran orang-orang yang
tinggal di ‘rumah’ itu. Paling ga mereka lebih beruntung dalam hal materi
dibanding penghuni-penghuni kampung sebelahnya. Walaupun pekerjaan
perempuan-perempuan itu sama, tetapi pendapatan mereka sungguh sangat berbeda.
Mendapat kekerasan dari konsumen juga dianggap sebagai resiko pekerjaan. Ditipu
konsumen dan ga dibayar adalah hal biasa. Padahal satu-satunya alasan mereka
menerjuni pekerjaan itu adalah uang. Kecuali bagi perempuan-perempuan hiper
yang pernah sangat terganggu psikisnya.

 

Ah mengapa banyak perempuan yang nasibnya kurang beruntung. Belum lagi
perempuan-perempuan yang rela menyerahkan dirinya untuk dieksploitasi karena
mereka ga sadar dirinya telah diperalat oleh kapitalisme. Setiap hari kita
melihatnya dalam berbagai media. Dalam layar televisi, dalam lembaran buram
surat kabar, juga dalam papan-papan yang berserakan di pinggir-pinggir jalan.
Sungguh sangat bodohkah perempuan-perempuan kita? Atau karena mereka sekadar
tidak sadar saja? Lalu siapakah yang akan mencerdaskan perempuan-perempuan itu?
Siapa yang akan menyadarkan mereka kalau setiap diri yang merasa dirinya
‘cerdas’ dan ’sangat sadar’ masa bodoh akan itu semua. Proses penyadaran memang
bukan proses yang mudah untuk dilakukan. Perlu waktu yang tidak bisa dibilang
sebentar. Perlu energi yang tidak bisa dibilang sedikit. Perlu usaha yang
tampaknya hanya sia-sia belaka. Tapi, itu semua harus dilakukan. Harus
dilakukan demi perempuan-perempuan kita. Untuk menyadarkan perempuan-perempuan
itu, juga untuk menyadarkan laki-laki agar lebih peduli dengan nasib perempuan.

 

Mom, aku sangat menghormatimu karena nabi kita mengajarkan
untuk menghormatimu, menghormatimu, dan menghormatimu. Tapi ijinkanlah aku
melakukan sedikit sesuatu untuk perempuan-perempuan kita. Walaupun bila dilihat
mungkin sangat ga berarti, tapi bukan berarti kita harus diam saja. Mom,
jangan seperti mbah putri yang selalu menyuruhku untuk diam ketika aku melihat
sesuatu yang tidak benar terjadi di depan mataku. Aku lelah diam. Aku ingin
menyuarakan suara hatiku. Aku juga ingin perempuan-perempuan kita mampu
menyuarakan suara hatinya. Aku tak ingin mereka hanya diam karena kita adalah
manusia yang diberikan kemampuan untuk menyuarakan suara hati kita. Aku rindu
berjuang bersama teman-temanku ibu. Aku janji akan menyelesaikan kewajibanku
untukmu, tapi beri aku sedikit kesempatan untuk melakukan sedikit sesuatu untuk
perempuan-perempuan kita. Teman-teman, aku rindu kalian. Aku rindu dengan
diskusi-diskusi kita yang bisa membuat banyak orang menjadi merah mukanya.
Mereka orang-orang yang ga terima dikatakan sebagai orang-orang yang ga sadar.
Banyak hal yang masih belum kita lakukan, tapi akankah kita membiarkan waktu
yang menyelesaikannya sehingga jerih payah kita menjadi tak berarti. Aku tak
inginkan itu semua. Aku ingin kita tetap berjuang meski lelah mendera raga,
otak, dan hati kita. Aku ingin kita tetap berjuang meski banyak kepentingan
akan melibas kita. Aku benar-benar berterimakasih dengan teman-teman PSG dan
NWI yang belum lelah untuk berjuang. Teman-temanku pastinya juga mengalami
kelelahan yang sama. Btw, aku senang banget ketika baca koran yang memuat
berita tentang aksi yang dilakukan teman-teman. Koordinator aksi peringatan
hari perempuan itu adalah seorang laki-laki. Perjuangan memang kurang berarti
ketika hanya perempuan sendiri yang membela nasib perempuan. Kesannya
seakan-akan perempuan berjuang melawan penindasan yang dilakukan oleh
laki-laki, padahal lawan sebenarnya adalah ketidakadilan, penindasan terhadap
perempuan – baik itu dilakukan oleh laki-laki maupun oleh kaum perempuan
sendiri. Jujur, aku sendiri sudah sangat lelah. Tapi kita harus tetap berjuang
selama  penindasan masih terjadi
dimana-mana. Perjuangan tak pernah henti.
Fastabiqul
khairat
.

Comments (2)

A liar, number one liar

Banyak orang ga akan terima jika disebut sebagai a liar. Tapi
percaya atau tidak, ada orang yang memilih menjadi a liar. Menjadi a
liar
ternyata adalah sebuah pilihan. Yach, pilihan bagi mereka –
orang-orang yang sok tahu banget dengan kehidupan seseorang, sok tahu dengan
kebahagiaan seseorang. Seseorang yang menjadi target kebohongan mereka. Seseorang
yang sangat mengenal mereka. Seseorang yang faham sifat mereka. Dan seseorang
yang tahu ketika mereka tell a lie. Emangnya ia orang asing apa? Yang
begitu mudahnya mereka perdayai.
Ia sangat mengenal mereka. Ia bisa
membedakan mana kebohongan, mana kebenaran. Jangan dikira ia mudah mempercayai
apa yang mereka katakan. Mereka yang berfikir seseorang yang telah dibohonginya
bisa bahagia ketika mereka mengatakan kebohongan. Dasar orang-orang sok tahu!

 

Be a liar. A happy liar. Bahagia
karena telah melakukan kebohongan padanya. Huh, ia ga yakin mereka sebenarnya
bahagia. Kebahagiaan mereka adalah karena mereka yakin seseorang tersebut akan
lebih bahagia, keadaannya akan dapat lebih baik dengan kebohongan mereka. Tapi,
apa sebenarnya mereka bahagia? TIDAK! Sesungguhnya mereka sangat tidak bahagia.
Mereka bahkan sangat tersiksa. Tersiksa karena mereka juga berusaha menipu diri
mereka sendiri. Tersiksa oleh kebohongan yang mereka buat sendiri. Mereka bukan
number one liar. Ya, karena mereka ga dapat menemukan kebahagiaan
sejatinya dalam kebohongan mereka. Mereka hanya dapat menemukan kebahagiaan
semu yang sesaat saja. Sesaat yang ga abadi.

 

Biarkan…biarkan saja mereka terus
mengatakan kebohongan. Biarkan mereka berusaha menjadi number one liar. Biarkan
mereka bahagia dengan kebohongan yang mereka buat sendiri. Biarkan juga ketika
mereka akhirnya terpuruk dalam derita kebohongan. Mereka sendiri yang telah
menentukan pilihan hidupnya. Mereka jugalah yang bertanggung jawab akan
pilihannya, akan segala konsekuensinya, akan segala resikonya. Bahkan ketika
mereka akhirnya seumur hidup merasa tersiksa, itu adalah pilihannya. Pilihan
dari orang-orang sok tahu. Orang-orang yang merasa bisa membahagiakan orang
lain dengan kebohongannya. Orang-orang sok yang ga mau membagi derita hidupnya.
Orang-orang sok yang ga mau mengusik orang lain dengan sedikit membagi derita
hidupnya. Yach, karena mereka sok kuat, sok tegar, sok bisa menghadapi semuanya
sendirian. Apa mereka fikir mereka adalah robot yang sama sekali ga punya
perasaan? Apa mereka fikir perasaan itu ga penting lagi?
Hingga mereka
mengabaikan banyak rasa dan merasa paling tahu perasaan orang lain.
Bagaimanapun, mereka ga akan pernah dapat menjadi number one liar,
karena mereka adalah a feeler. Mereka ga lebih dari bagian orang-orang
brengsek.

Comments

Nonton Bareng AAC

Senin malam kemarin, ada nuansa yang
berbeda di bioskop 21 Amplaz. Menjelang pukul 7 malam, 21 dipenuhi oleh
bapak-bapak Muhammadiyah dan ibu-ibu Aisyiyah. Ga mau kalah dengan bapak dan
ibunya, angkatan muda juga turut hadir di sana. Tampak pula beberapa rombongan
keluarga beserta anak-anaknya, dari yang masih balita sampai yang sudah dewasa.
Malam itu keluarga besar Muhammadiyah punya gawe nonton bareng Ayat-ayat Cinta
(AAC). Acara yang diprakarsai teman-teman web muhammadiyah.or.id ini bisa
dibilang cukup sukses. Antusiasme warga Muhammadiyah untuk mengikuti acara ini
cukup besar. Seluruh tiket sold out. Terpaksa deh banyak yang ga bisa
ikutan nonton bareng. Alhamdulillah ga rugi booking 1 studio wide
screen
dengan kapasitas 310 seat. Padahal sebelumnya sudah takut aja
kalau-kalau ga bisa jual tiket sampai 200 seat, bisa nombok tuh. Dari
manajemen 21 kasih jatah minimal 200 seat. So, ketika ga sampai 200 seat
tetap aja harus bayar 200 seat. Untungnya sih tiket bisa sold out,
ga jadi rugi deh. 

 

Sebelum film mulai tayang, Pak Budi Setiawan,
ketua LPI PP Muh punya ide untuk mengawalinya dengan menyanyikan Mars
Muhammadiyah. Hehe, tapi karena situasi ga memungkinkan ya udah deh langsung
nonton aja. Tepat pukul 19.15, AAC ditayangkan. Sayang, ga bisa langsung khusuk
nikmatin film. Ada beberapa orang yang mondar-mandir nyari seatnya.
Tampaknya emang ada yang salah nempatin seat, ga sesuai dengan tiket
gitu. Maklum, banyak yang bukan penonton asli bioskop. Yach, sedikit gangguan
kecil ga mengurangi esensi kenikmatan nonton bareng.

 

Seperti yang sudah diceritakan Hanung
Bramantyo, sutradara AAC pada acara bincang-bincang tentang AAC di aula PP
Ahmad Dahlan seminggu sebelumnya, film ini memang berbeda dengan novelnya.
Tidak mudah memang memindahkan novel ke dalam sebuah film. Harry Potter dan
Eragon saja berbeda antara novel dengan filmnya. Bagi yang sudah pernah membaca
novel AAC, setelah melihat filmnya pasti akan bilang filmnya ga bagus. Yach,
semua novel yang dipindahkan ke film selalu bernasib seperti itu. Ketika
membaca novel orang akan mudah membayangkan sesuatu sesuai dengan alam
fikirannya. Tidak mudah memvisualisasikan cerita dalam novel. Kalau kata
Hanung, pada proses pembuatan AAC bukan kreatifitas lagi yang dikedepankan,
tapi proses mengakali. Bagaimana membuat sebuah tempat di Semarang seolah-olah
sebuah pasar di Mesir lengkap dengan untanya. Bagaimana membuat India
seolah-olah adalah Mesir beserta sungai Nilnya. Andai AAC bisa dibuat di Mesir
dengan nuansa Nil yang eksotis, pasti keren banget deh. Sayang, costnya
terlalu mahal. Tapi, bukan Hanung kalau ga bisa mengakalinya.

 

Pada film AAC, sosok Fahri dibuat
menjadi ga perfect. Fahri adalah pribadi yang rapuh ketika menghadapi
berbagai cobaan, yang ga bisa ikhlas menerima semua yang terjadi padanya, yang
kadang lupa menjaga pandangan, yang lupa harus berlaku ‘adil’ kepada istri-istrinya.
Sebaik dan sesholeh apapun Fahri, ia tetaplah manusia biasa yang ga lepas dari
kekurangan. Beda banget kan dengan novelnya. Hehe, kalau tahu sosok Fahri jadi
seperti ini, teman-teman saat KKN dulu tentunya ga bakal berebutan bercita-cita
menjadi seorang Fahri. Sebagai film religius (kata khalayak umum, Hanung
sendiri tidak menyebutnya demikian), AAC ga lepas dari kritik atas
masalah-masalah yang dikatakan syar’i. Masalah Aisha yang ga pakai kaos kaki,
Aisha yang shalat dengan tetap memakai cadar, juga masalah Maria yang
mengucapkan salam. Semua sudah dijawab Hanung pada diskusi dadakan di PP Ahmad
Dahlan seminggu yang lalu.

 

Lepas dari kekurangan AAC, film ini
sudah memberi fenomena tersendiri bagi dunia perfilman Indonesia. AAC mampu
membawa orang-orang yang bukan penonton asli bioskop untuk nonton ke bioskop. Kabarnya
sih jumlah penontonnya sekarang sudah mencapai 1,7 juta. Banyak bioskop yang harus
membuka 2 layar untuk film ini. Sampai saat ini juga masih terjadi antrean
panjang untuk mendapatkan tiket nonton AAC. Yang parah waktu premier, banyak
yang kehabisan tiket sebelum sempat mengantri (hehe pengalaman pribadi). Orang-orang
Malaysia dan Singapura bahkan rela pergi ke Batam hanya untuk nonton AAC. Yang
sangat ironis adalah munculnya nonton bareng AAC di berbagai tempat (termasuk
masjid) dalam versi bajakan yang notabene masih rough editing. Semoga
mereka yang nonton bajakan diberikan kesadaran bahwa mereka sudah mendholimi
orang lain. Ukuran kesuksesan film adalah ketika film tersebut mampu
mendatangkan banyak penonton ke bioskop, bukan dari penjualan DVD, dan tentunya
bukan dilihat dari berapa banyak orang yang berusaha mendapatkan bajakannya.
So, ketika
penonton film religius sedikit, ga ada lagi produser yang mau membiayai film-film
bertema religius. Ga bakalan ada film religius lagi. Makanya jangan nonton
bajakan. Pembajak terus bermunculan karena mereka punya pasar, karena ada demand.
Jangan bangga karena sudah nonton bajakan. Stop piracy! Yang pada ga
kebagian tiket nonton bareng, antri sendiri di 21 ya. Semoga kebagian tiket.

Comments (1)

Bad Feeling

Aku sering banget punya feeling
ga enak. Dari sekian banyak feeling burukku, hanya sedikit saja yang
bisa aku rasakan dengan jelas gambarannya. Dan malangnya yang jelas itulah yang
benar-benar terjadi. Yang lainnya mungkin hanya sekadar pengaruh gangguan emosi
akibat manifestasi alergi. Ga banyak yang aku ingat dari bad feelingku yang nyata terjadi.  

Peristiwa pertama yang sangat aku ingat
adalah ketika aku masih kelas 6 SD. Ketika orang yang ingin menjual tanahnya ke
bapak datang ke rumah. Saat sepintas melihat orang tersebut, tiba-tiba
terlintas sesuatu yang tak lazim di benakku. Aku bisa-bisanya berfikir
bagaimana kalau orang tersebut tertabrak motor kemudian meninggal. Astaghfirullah…
gumamku ketika aku tersadar dari fikiran kacauku. Aku segera shalat, memohon
ampunan dariNya, dan berusaha melupakan fikiran jahat itu. Dari bapak, aku tahu
kalau orang tersebut berjanji akan datang ke rumah seminggu kemudian. Saat
waktu telah berlalu selama seminggu, kemudian beranjak menuju dua minggu, orang
tersebut tak jua datang ke rumah. Setelah dua minggu, bapak bermaksud menemui
orang tersebut di rumahnya. Ketika bapak sudah sampai rumah, beliau bercerita
kalau tidak dapat menemui orang tersebut karena sudah meninggal tertabrak motor
7 hari yang lalu. Aku langsung lemas mendengarnya. Ampuni aku ya rabbi. Aku
takut, takuuut sekali. Aku berharap tak mengalaminya lagi.

Saat aku beranjak dewasa, tak ada
sesuatu yang khusus mengenai bad feeling. Hanya beberapa kali aku pernah
mencium wangi bunga yang tak biasa dan aromanya cepat sekali menghilang. Dan
hanya ibuku yang juga bisa merasakannya. Bapak dan adikku tak bisa merasakan wangi
bunga tersebut sehingga kami sering debat dibuatnya. Wangi bunga yang sama
sekali ga mungkin menyelimuti rumahku karena di sekitar rumahku ga ada bunga
yang aromanya sangat-sangat wangi. Beberapa saat setelah kejadian debat itu,
selalu saja ada kabar duka cita dari kerabat menghampiri kami. Begitukah caraMu
mengabarkannya pada kami ya rabbi?

Hal lain yang aku ingat adalah saat SMA.
Di suatu pagi saat berangkat sekolah, aku merasa sangat ingin bertemu dengan mbah
putri
ku. Selama di sekolah, aku sangat ga tenang. Begitu bel tanda pulang
sekolah berbunyi, aku langsung berlari menuju rumah mbah putri yang jaraknya ga
ada 1 km dari sekolah. Sesampai di rumah yang penuh dengan kenangan masa
kecilku itu, hanya sunyi yang aku dapati. Dari tetangga, aku mendapat kabar
kalau mbah putri sakit dan dibawa ke rumah sakit sejak pagi tadi. Rabb,
itukah jawaban atas kegelisahanku hari ini, rintihku pilu.

Kejadian yang aku rasakan aneh juga
terjadi saat SMA ketika aku dua kali terpeleset di rumah dan satu kali jariku
tiba-tiba berdarah selama 3 hari berturut-turut. Aku bukanlah orang yang
percaya akan pertanda buruk. Aku pernah beberapa kali terpeleset dan seringkali
juga jariku berdarah. Dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padaku. Akan
tetapi, ada perasaan lain menghinggapiku saat itu. Aku sudah berusaha
menguapkannya dan melemparkan jauh-jauh perasaan itu, tapi ia tak jua mau
beranjak pergi dariku. Aku ga tahu mengapa aku bisa seyakin itu kalau sesuatu
yang buruk sebentar lagi terjadi padaku dan itu berkaitan dengan sekolah. Beberapa
hari kemudian semuanya terjawab. Peringkat kelasku terjun bebas.

Beberapa kejadian yang pernah aku alami
seputar bad feeling tetap tak membuatku percaya kalo feelingku tepat.
Sampai suatu ketika… Kamu sih, pake feeling kalo aku ga jadi. Degh,
kalimat yang bernada bercanda itu terasa meruntuhkan dinding ketegaran dan
senyum keceriaan yang sedang kubangun saat itu. Mas arif – kakak baik hati yang
sudah mau menemaniku dan membantuku memunguti kembali serpihan-serpihan asa
yang sempat tercerabik dari hidupku – tiba-tiba melontarkan kalimat itu padaku.
Aku sangat sedih. Otakku tiba-tiba memutar kembali kembali rangkaian
peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Aku ga nyangka kalo bad
feeling
ku benar terjadi pada mas arif. Mas, andai aku bisa memutar waktu
untuk kembali ke masa itu, aku sangat berharap bisa mendapat feeling
yang baik saat aku bertemu dengan samudera cintamu.

Yeah, aku ga suka punya bad feeling.
Aku berharap apabila sesuatu yang buruk itu harus terjadi ya sudah terjadi
sajalah tanpa aku harus mempunyai bad feeling tentangnya. Entahlah,
mungkin karena aku terlalu sedih karena bad feelingku benar terjadi.
Walaupun dengan ada atau tiada feelingku sebenarnya ga berpengaruh
dengan apa yang memang harus terjadi, tapi ga ngertilah. Rasa ga enak hati itu
selalu saja hinggap. Maafin aku mas arif! Aku tahu kau sangat kehilangannya.
Andai bisa kembali ke masa itu menggunakan mesin waktu, aku akan memaksa feelingku
untuk dapat diswitch menjadi good feeling. Hehe ga mungkin banget
yach? Ah, aku ga ngerti harus berbuat apa untukmu mas. Yang aku bisa lakukan
saat ini hanya mengusikmu dengan kekacauan-kekacauan kecilku. Aku ingin sekali menemukan
samudera dan membawakannya untukmu. Ga hanya sekadar laut, tapi samudera yang
terlalu angkuh untuk diarungi. Tapi dimana aku bisa menemukannya? Samudera yang
bisa menenggelamkan hatimu dalam keangkuhannya. Samudera yang bisa membuatmu
sangat bersemangat untuk menaklukkannya. Samudera yang dapat membuatmu menjadi hero
karena mampu mengarungi keluasannya.

Anyway, aku tetap ga
mau terlalu percaya dengan bad feeling, terutama saat ini. Entah mengapa
intensitasnya semakin tinggi saja. Pengaruh alergi tampaknya sudah semakin
hebat mendera tubuhku. Orang dapat saja bilang itu hanya kecemasanku semata.
Tapi, akulah yang paling merasai ketika perubahan-perubahan terjadi pada tubuhku.
Hanya aku yang sangat tahu kapan perubahan-perubahan itu terjadi. Kapan
adrenalineku meningkat, kapan aku mulai mengalami gangguan emosi serta cemas
dan panik yang berlebihan, kapan aku mengalami gangguan tidur dan
gangguan-gangguan lainnya. Sebuah kombinasi yang sangat bagus untuk terjadinya
sebuah bad feeling. Just enjoy your life! Kita ga akan pernah tahu
apa yang akan terjadi esok bila kita menyerah hari ini. Aku yakin aku dapat
menemukan hidupku yang dipenuhi good feeling, someday…  

Comments (2)

The Colour of Love

Gara-gara kehabisan tiket Ayat-ayat Cinta, aku, si
"little bird" gindah, dan mbak yuni akhirnya milih nonton LoVe.
Film itu
menceritakan kisah-kisah cinta yang berbeda. Berbagai warna cinta dikemas jadi
satu dalam LoVe. Setiap orang membutuhkan cinta. Bahkan ketika orang itu tak
tahu apa makna cinta, sebenarnya ia sedang sangat membutuhkan cinta. Cinta tak
mengenal batas usia dan batas kematian. Cinta tak mengenal status dan kekayaan.
Cinta juga bisa datang bahkan di saat kita melupakannya. Ketika cinta datang
menghampiri, setiap orang tak dapat menolaknya. Walau ada saja orang yang
berusaha menyangkalnya, mengakalinya, bahkan memanfaatkannya. Setiap orang bebas
memilih warna cinta yang seperti apa. Warna cinta apa yang ia butuhkan. Warna
cinta apa yang ia inginkan.

Manusia tak bisa
lepas dari yang namanya cinta. Cinta mempunyai kekuatan yang luar biasa. Cinta
dapat membuat orang rela melakukan apa saja. Dalam LoVe, warna-warna cinta
diramu menjadi suatu yang universal, yaitu CINTA. Cinta dapat membebaskan hati
dari derita sepi yang berkepanjangan. Kehebatan cinta juga sangat dipuji ketika
cinta dapat membantu kesembuhan seseorang dari penyakitnya. Cinta dapat membuat
orang nyaman dalam buaian rasa cinta. Cinta juga dapat membangkitkan seseorang
agar mau menerima perubahan besar dalam hidupnya. Cinta membuat orang berani
meninggalkan kemapanan hidupnya. Cinta juga dapat membangkitkan harapan hidup
yang baru. Cinta akan indah bila dijaga.

Tapi tak
selamanya cinta menimbulkan efek positif. Ketika cinta tak dirawat dengan baik,
ketika cinta kalah dengan ego, ia akan melesatkan sembilu-sembilu penoreh luka.
Sayatan-sayatan sembilu mengoyak keteduhan hati dan memberikannya warna cinta
yang lain. Cinta membutuhkan pengorbanan. Kekuatan cinta dapat membuat
seseorang mengorbankan waktu, harta, keluarga, dan juga ego. Cinta kadang juga
membutuhkan kesabaran. Cinta dapat ditumbuhkan, walau tak mutlak selalu bisa.
Cinta juga dapat diubah menjadi kebencian karena lara yang dilukiskannya pada
hati-hati yang luka. Cinta tak selamanya indah. Memiliki cinta bagaikan
memegang mawar berduri. Keindahan mawar menggoda orang-orang untuk berusaha
memilikinya. Ketika dapat memilikinya, mawar harus dipelihara dan dirawat
dengan baik agar tak layu, terserang penyakit, dan mati. Merawat mawar juga
harus penuh kehati-hatian. Bila tak hati-hati, duri mawar yang tajam kan
mengoyak jemari penikmatnya. Begitulah cinta dengan berbagai macam warnanya.
Warna bahagia, warna kesedihan, warna keterpurukan, warna harapan, warna
keberanian, warna ketulusan, warna pengorbanan, warna kesetiaan, warna keabadian.
Pilihlah sesuka hati warna-warna cintamu. Apapun warnanya, ia tetaplah bernama
CINTA.

Comments

Hopeless???

Hopeless??? Ah
itu dulu. Sekarang aku ga boleh hopeless lagi. Yach, walaupun serangan
itu datang dan membuatku nyaris tak bertenaga, aku ga boleh hopeless
lagi. Mau seperti apa kita, semuanya dikendalikan oleh otak kita sendiri. Ia
temanku. Sebuah kenyataan yang ga bisa aku tolak. Teman yang membersamaiku
seumur hidupku. Ia memang selalu datang di saat yang ga tepat. Ya, itu karena
aku tak pernah menginginkannya. 

Tak bisa aku
pungkiri kalo aku pernah membencinya. Ia membuatku sulit bernafas, sulit
berfikir, dan sulit untuk melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Aku tak
berdaya. Aku menyerah dalam pelukan ketidakberdayaanku sendiri. Betapa
menyedihkannya. Aku sering stress dibuatnya. Tapi, stress hanya membuat ia
makin gencar menyerangku. Bukan itu cara untuk menghadapinya. Anggaplah ia
teman yang kadang butuh perhatian lebih. Begitulah pendapatku. 

Sekarang aku
sudah bisa menganggapnya sebagai teman. Teman yang menyapa bila aku lalai
menjaga diri. Ia juga akan menyapaku bila aku berada pada hawa yang ga baik.
Ketika hati dan fikiran ini tak bisa diajak untuk berlaku positif, ia akan
datang membelaiku dan mengingatkanku. Alangkah baiknya ia. 

Ketika ia
datang, istirahat dan tersenyumlah. Begitu caraku menghadapinya. Cara ini
ternyata efektif juga sehingga ia hanya sebentar saja menghampiriku. Senyum
ternyata benar-benar membawa energi positif. Hati menjadi senang sehingga
urat-urat stress pun dapat terlonggarkan. Aku pernah baca kalo senyum itu lebih
hemat energi dibanding marah. Kayaknya emang benar deh. Buktinya kalo aku marah
aku jadi lebih cepat laper hehehe……….. 

Sekarang aku
sangat yakin aku bisa menghadapinya. Bukan dihadapi dengan obat semprot yang bisa
buat addict ataupun suntik terapi yang sangat lama, tapi dihadapi dengan
senyum dan positive thinking. Dengan sisa-sisa tenaga dan kesulitan
berkonsentrasi yang teramat sangat, aku masih bisa mengetik tulisan ini. Bukti
kalo aku masih bisa melakukan apa yang aku ingin lakukan. Walaupun nafas
terengah dan otak susah diajak kompromi, keep smile!!! Dengan begitu ia
akan mudah menghilang. Yeah, aku bisa menghadapinya. Aku masih punya banyak
mimpi. So aku ga mau hopeless lagi. Never again!!!

Note : Ditulis di malam
saat serangan itu datang. Yach, resiko atopi. Btw, caraku ini ga boleh dilakukan bagi yang udah parah, bisa2 tar malah pergi ke alam lain.

 

Comments

Little Billy

Baby_1

Pagi
itu terasa sunyi. Tak banyak orang melakukan aktifitas di pagi itu.
Mungkin
karena sang mentari sedang malas membagikan kehangatan sinarnya pada dunia.
Tangis little Billy tiba-tiba memecah kesunyian pagi. Menangis!!! Ya hanya
menangis yang bisa dilakukan oleh little Billy ketika terusik ketenangannya.
Little Billy memang belum lama bisa melihat dunia. Ia belum bisa melakukan
apapun selain menangis, minum susu, dan tidur.

Tangis little Billy sangat keras hingga dapat memanggil
orang-orang tuk datang menghampirinya. Yach, little Billy ditemukan tanpa
sehelai pakaian pun melekat di tubuhnya yang lembut. Little Billy kedinginan.
Mungkin itu jawaban atas tangisnya. Orang-orang pun segera mencarikan pakaian
yang dapat menghangatkan tubuh little Billy. Ah tapi tetap saja little Billy
menangis. Aha mungkin little Billy lapar.
Little Billy harus minum susu. Tapi botol susu little Billy
kosong. Kaleng susunya pun tak ada.

Ah kasihan
sekali little Billy. Seandainya ia bisa berbicara, mungkin ia akan berteriak.
”Mama jangan pergi!!!!!!” Malangnya mamanya tak dapat mendengar jeritan
hatinya. Mama…, mengapa mama lebih memperturutkan emosi mama daripada
mempedulikanku? Ah, biarlah mama pergi. Little Billy masih punya papa. Papa….,
tolong aku, ratapnya dalam hati. Ah ternyata papa lebih tak bisa mendengar kata
hatiku, keluhnya kecewa. Papa…, mengapa papa turut pergi? Mengapa papa tak
membawaku turut serta untuk menyusul mama? Mengapa papa meninggalkanku dalam
keadaan seperti ini? Aku akan menunggu papa untuk menjemputku. Papa pasti
datang menjemputku. Little Billy meyakinkan hatinya di tengah kesedihan dan
kegelisahannya yang makin memuncak.   

Sehari
sudah papa little Billy meninggalkannya, tapi belum ada tanda-tanda sang papa
menjemputnya. Dimanakah engkau papa? Tahukah kau papa betapa baiknya
orang-orang di sekelilingku saat ini. Betapa mereka selalu menjagaku. Mereka
tak pernah meninggalkanku. Mereka tak membiarkanku menangis. Mama, papa, betapa
aku sangat merindukanmu.

Hari
demi hari berlalu, tapi tak jua tampak tanda-tanda papa dan mama little Billy
datang menjemputnya. Little Billy begitu lelah menantikan harapan yang tak
pasti. Tapi keyakinannya begitu kuat hingga dapat mengalahkan simpul-simpul
kelelahannya. Hingga akhirnya hari sudah memasuki hitungan ketujuh. Papa…,
akhirnya kau datang juga. Tapi, dimana mama? Ah biarlah!

Ada papa bersamaku saat ini. Bawa aku
pulang papa! Bukannya aku tak suka berada di tempat ini. Bukannya mereka tak
baik padaku. Tapi bukan di sini tempatku. Tempatku adalah bersama mama dan papa. Jangan tinggalkan aku lagi, papa!!!

 

 

 

Comments

« Previous entries · Next entries »